Jakarta, Radio Bharata Online - Belt and Road Initiative (BRI) telah memberikan hasil yang berstandar tinggi, berkelanjutan, dan meningkatkan mata pencaharian, dan karenanya disambut secara luas. Hingga saat ini, lebih dari tiga perempat negara atau tepatnya 138 negara di seluruh dunia dan 32 organisasi internasional telah bergabung dalam inisiatif ini.
Sepuluh tahun pasca pendiriannya, BRI telah berevolusi dari visi menjadi kenyataan, mendorong pembangunan di negara-negara mitra dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Upaya selama satu dekade telah membuka jalan menuju pembangunan bersama, dan menciptakan serangkaian tengara nasional, proyek mata pencaharian, dan tonggak kerja sama.
Selama dekade terakhir, BRI telah menggelontorkan investasI senilai hampir $1 triliun, mendirikan lebih dari 3.000 proyek kerja sama, menciptakan 420.000 pekerjaan lokal, dan membantu mengangkat hampir 40 juta orang keluar dari kemiskinan. Salah contoh paling nyata adalah Kereta Api Tiongkok-Laos yang berhasil membantu Laos yang terkurung daratan menjadi negara yang terhubung dengan daratan. Layanannya pun kini tidak hanya pengiriman barang, tetapi juga penumpang lintas batas negara.
Ada juga pembangkit listrik Puttalam yang membantu menerangi banyak rumah di Sri Lanka pada malam hari, Kereta Api Mombasa-Nairobi yang menambahkan lebih dari dua poin persentase ke pertumbuhan ekonomi lokal Kenya, dan Lokakarya Luban yang membantu kaum muda di lebih dari 20 negara memperoleh keterampilan kejuruan.
Di Asia Tengah, dampak inisitatif ini juga sangat signifikan. Volume perdagangan Tiongkok-Kazakhstan mencapai lebih dari $30 miliar, meningkat 70 kali lipat dibanding sebelum masuk dalam kerangka kerja sama BRI. Kazakhstan juga telah berubah dari negara terkurung daratan yang hampir tidak dikenal di dunia menjadi pusat transportasi yang sangat penting di benua Eurasia.
Sedangkan di Tajikistan, pada tahun 2011, pemerintah Tajik dan perusahaan energi TBEA Tiongkok bersama-sama meluncurkan proyek pembangkit listrik termal Dushanbe-2, pembangkit listrik dan panas gabungan dengan total kapasitas terpasang 400 megawatt. Selesai pada tahun 2016, stasiun tersebut mengaktifkan kembali pemanas sentral untuk penduduk Dushanbe setelah absen selama 15 tahun.
Adapun di Kirgistan, Zhongda China Petrol Company menjadi salah satu proyek terbesar yang didanai Tiongkok di bawah BRI. Proyek ini muncul sebagai proyek penyulingan minyak terbesar di negara Asia Tengah itu, memainkan peran dalam mempromosikan pembangunan ekonomi lokal, meningkatkan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan pajak dan menguntungkan negara dan wilayah tetangga.
Tak hanya fokus di Asia, BRI juga telah melahirkan Kereta Api Ekspres Tiongkok-Eropa yang hingga saat ini telah menyelesaikan 65.000 layanan pengangkutan, melayani sebagai armada unta baja antara Asia dan Eropa, dan kereta kesehatan yang mengantarkan pasokan medis selama pandemi Covid-19.
Li An, Konselor Menteri bidang ekonomi dan komersial Kedutaan Besar Tiongkok untuk ASEAN, pada konferensi pers hari Jum'at (19/5) lalu di Jakarta mengatakan Tiongkok akan menjadi tuan rumah Belt and Road Forum for International Cooperation yang ketiga tahun ini.
"Mengambil ini sebagai kesempatan, kami akan bekerja dengan semua pihak terkait untuk hasil yang lebih bermanfaat dari kerja sama Belt and Road. Kami akan terus menyambut semua inisiatif yang tidak didorong oleh ideologi yang diusulkan oleh negara lain, dan kami senang melihat mereka berhasil jika tidak mengusung agenda geopolitik," ujarnya.
"Di masa mendatang, Tiongkok akan siap bekerja sama dengan partai politik dari semua negara lain untuk memajukan kerja sama Belt and Road yang berkualitas tinggi, mempercepat implementasi yang solid dari Inisiatif Pembangunan Global, mendorong pendorong baru untuk pembangunan global, dan membangun komunitas pembangunan global," tambah Li An.