Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning menunjukkan, apabila negara-negara terkait G7 benar-benar memperhatikan negara-negara berkembang, maka seharusnya mereka segera menunaikan komitmennya, antara lain, memberikan 0.7% dari pendapatan nasional tahunannya sebagai bantuan pembangunan resmi, memberikan dana iklim sebesar $100 miliar Amerika Serikat kepada negara-negara berkembang setiap tahun, memikul lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban internasional, serta melakukan lebih banyak hal-hal yang bermanfaat bagi negara-negara berkembang.
Mao Ning membeberkan hal tersebut kemarin Senin (22/5) saat menanggapi sikap Ketua Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, terkait Tiongkok.
Dilaporkan, di depan KTT G7, Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, banyak negara emerging market dan negara-negara berkembang yang sedang mengupayakan pendanaan berkelanjutan. Dikatakannya, Inisiatif ‘Sabuk dan Jalan‘ nampaknya hemat biaya, tapi sejumlah negara ‘Selatan’ yang menerima kredit Tiongkok dalam kerja samanya dengan Tiongkok pada akhirnya terjemurus ke dalam krisis utang.
Menanggapi pernyataan Ursula von der Leyen tersebut, Mao Ning mengatakan,
“Mendengar perkataan tersebut membuat kita ingin bertanya, sebagai negara-negara terkaya di dunia, kontribusi nyata apa yang sudah diberikan oleh G7 kepada negara-negara berkembang? Mengapa terus mencoreng dan menganggu kerja sama normal antar negara-negara berkembang? Tiongkok adalah salah satu negara berkembang, kerja sama antara Tiongkok dan negara-negara berkembang lainnya adalah untuk mewujudkan pembangunan bersama, dan telah diakui secara umum oleh negara-negara berkembang. Inisiatif ‘Sabuk dan Jalan‘ telah menjadi produk publik internasional yang sangat disambut baik, kuncinya adalah mempertahankan prinsip berkonsultasi bersama, membangun bersama dan berbagi bersama. Tiongkok tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain, kerja sama tidak pernah membawa kepentingan pribadi geopolitik, yang diprakarsai oleh Tiongkok adalah kerja sama yang saling menguntungkan dan menang bersama, adalah pembangunan bersama yang lebih inklusif, menguntungkan dan dan seimbang.”
Mao Ning menyatakan, Tiongkok juga mementingkan masalah keberkelanjutan utang, selalu berupaya untuk semaksimal mungkin membantu negara-negara berkembang meringankan beban utang mereka. Menurut laporan dari lembaga riset terkait, jumlah penangguhan utang oleh Tiongkok dalam kerangka G20 telah melampaui jumlah total utang yang ditangguhkan oleh negara-negara G7. Baru-baru ini, Pusat Kebijakan Pembangunan Global Universitas Boston Amerika Serikat dalam laporannya menunjukkan, kerja sama investasi dan pendanaan antara Tiongkok dan negara-negara berkembang berasal dari kebutuhan nyata negara penerima dana, bermanfaat untuk memecahkan hambatan pembangunan daerah, dan melepaskan potensi pertumbuhan ekonomi, serta berpotensi meningkatkan pendapatan nyata global hingga 3 poin persentase.
Pewarta : CRI