Pusat Tanggapan Darurat Virus Komputer Nasional Tiongkok atau CVERC dan PT 360 Kamis hari ini (4/5) bersama-sama mengeluarkan sebuah laporan investigasi yang mengungkapkan keadaan terkait serangan siber yang dilakukan oleh CIA (Central Intelegence Agency) AS terhadap negara-negara lainnya, laporan tersebut mengungkapkan detail-detail peristiwa tipikal keamanan siber yang terjadi di Tiongkok dan negara-negara lainnya, secara menyeluruh menganalisa serangan siber, pencurian informasi dan aktivitas berbahaya riil terkait yang dilakukan CIA, serta kontribusinya bagi AS sebagai ‘Kerajaan Peretas ’.
CIA adalah salah satu badan intelijen utama AS, selama ini, CIA melakukan ‘perubahan damai’ dan ‘revolusi warna’ di berbagai penjuru dunia, serta terus melakukan aktivitas spionase.
Pada tahun 2020, perusahaan 360 menemukan sebuah organisasi penyerang siber yang belum pernah diungkap oleh kalangan luar, organisasi tersebut menggunakan alat dan senjata siber yang berkaitan dengan CIA AS, melakukan serangan siber terhadap targetnya di Tiongkok dan sejumlah negara lainnya. Aktivitas serangan tersebut dapat ditelusuri sampai tahun 2011 dan berlangsung sampai saat ini. Target yang diserangnya berkaitan dengan informasi penting bidang-bidang infrastruktur, dirgantara, lembaga riset, minyak bumi dan petrokimia, perusahaan internet besar dan badan pemerintah berbagai negara.
Dalam proses pemeriksaan berbagai peristiwa serangan siber tipikal yang terjadi di dalam wilayah Tiongkok, tim investigasi gabungan menemukan sejumlah besar program Trojan dan plug-in serta sampel serangan terhadap platform. Senjata-senjata siber tersebut telah melakukan pengelolaan proyek perangkat lunak yang terstandarisasi, terproses dan profesional dengan sangat ketat. Sejauh ini, hanya CIA yang dengan ketat menaati standar tersebut untuk mengeksploitasi senjata serangan sibernya.
Melalui analisis empiris, tim investigasi gabungan menemukan bahwa senjata siber yang digunakan oleh CIA menggunakan spesifikasi spionase yang sangat ketat, berbagai cara penyerangannya saling terkoneksi dan telah meliputi hampir semua internet dan aset IoT, CIA dapat mengontrol internet serta mencuri data penting dan sensitif negara-negara lainnya sewaktu-waktu. Tindakan AS tersebut memerlukan banyak uang, tenaga dan teknologi, hegemoni ala AS telah menunjukkan bahwa Amerika memang patut disebut sebagai ‘Kerajaan Peretas’.
Pewarta : CRI