BEIJING, Radio Bharata Online - Para ahli demografi senior Tiongkok telah menyerukan kepada pemerintah daerah, supaya mereka memperkuat dukungan bagi keluarga, bahkan jika hanya memiliki satu anak.  Hal ini karena beberapa daerah lebih fokus memberikan penghargaan kepada keluarga dengan dua atau tiga anak, tetapi justru mengabaikan pembangunan masyarakat yang ramah terhadap kesuburan.

He Dan, direktur Pusat Penelitian Kependudukan dan Pembangunan Tiongkok, menerbitkan sebuah artikel dalam edisi terbaru Kesehatan dan Populasi, sebuah jurnal yang disponsori oleh pusat penelitian tersebut, dan menunjukkan pentingnya mendukung keluarga dengan satu anak.

Pakar tersebut mengatakan, bahwa menunda kelahiran anak pertama, adalah penyebab utama tingkat kesuburan yang rendah.

Dia mengutip data resmi, yang mengatakan bahwa tingkat kesuburan total Tiongkok, turun dari 1,52 pada tahun 2019, menjadi 1,07 pada tahun 2022.

Dia juga mengungkapkan, bahwa pengalaman membesarkan anak yang buruk, adalah faktor utama yang mempengaruhi kelahiran lebih lanjut.

Data dari sebuah survei mengenai status pernikahan dan persalinan di Tiongkok menunjukkan, bahwa sebagian besar ibu yang sudah memiliki satu anak, merasa tidak nyaman dalam mempersiapkan kehamilan dan persalinan berikutnya.

Dia percaya bahwa hal ini tidak hanya terkait dengan kemampuan keluarga yang tidak mencukupi untuk menanggung biaya melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak, tetapi juga pengalaman buruk dari proses kelahiran dan pengasuhan anak pertama dalam keluarga.

Pakar tersebut menunjukkan, bahwa lemahnya dukungan terhadap keluarga satu anak, menunjukkan kurangnya pemahaman pemerintah daerah, terhadap kebijakan nasional.

Keputusan pemerintah pusat untuk mengoptimalkan kebijakan kesuburan untuk mendorong pembangunan penduduk yang seimbang dalam jangka panjang, hanya dipahami oleh beberapa daerah sebagai "kebijakan anak kedua atau ketiga," dan mengabaikan tujuan mendasar untuk membangun sistem pendukung kesuburan. (Global Times)