Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning dalam jumpa pers rutin hari Selasa kemarin (12/9) memberikan tanggapan terkait pernyataan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk menjalankan pengawasan terhadap pembuangan air limbah nuklir Jepang ke laut. Mao Ning menyatakan bahwa pengawasan apapun bukanlah pengakuan terhadap pembuangan air limbah nuklir Jepang ke laut, tidak dapat memberikan legitimasi dan legalitas yang diinginkan oleh pihak Jepang, Jepang harus segera berhenti mentransfer risiko polusi nuklir kepada seluruh dunia. Menurut informasi yang dirilis IAEA di situs webnya baru-baru ini, pihaknya telah melakukan pengambilan sampel dan pengujian di perairan sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima, dan berpendapat bahwa konsentrasi tritium, zat radioaktif dalam air laut lebih rendah daripada batas pengawasan Jepang. Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi pun menyatakan, IAEA sebagai organisasi internasional dapat mewakili masyarakat internasional mengawasi aktivitas pembuangan air limbah nuklir Jepang, selain itu, pihaknya juga meminta negara lain untuk berpartisipasi dalam pengawasan terhadap Jepang, sama seperti tuntutan terhadap berbagai negara untuk berpartisipasi dalam pengawasan jaminan fasilitas nuklir Iran. Menanggapi hal tersebut, Mao Ning menyatakan, pembuangan air limbah nuklir Jepang ke laut adalah hal yang belum dijumpai sepanjang sejarah, hal ini bersangkutan dengan kepentingan fundamental dan keprihatinan berbagai negara. Pengawasan IAEA terhadap Jepang tersebut tidak diizinkan oleh dewan kelembagaan, tidak dibahas penuh oleh para anggota negara, hanya menjadi konsultasi teknis dan aktivitas pendukung yang diberikan sekretariat kepada pihak Jepang, hal tersebut kurang internasionalitas dan independensi.
Mao Ning menunjukkan, “Air limbah nuklir seberat 7.800 ton sudah dibuang ke laut, tetapi sampai sekarang masyarakat internasional masih belum memahami pengaturan pengawasan spesifik dari sekretariat IAEA. Masyarakat internasional menuntut untuk membentuk pengawasan internasional yang berjangka panjang dan efektif, serta dapat diikuti sepenuhnya oleh pihak yang bersangkutan termasuk negara tetangga, serta menyusun rancangan spesifik mengenai jenis zat radioaktif, frekuensi, lokasi, lingkungan dan laporan dalam pengawasan. Jepang dan Sekretariat IAEA harus memberikan tanggapannya dengan sikap yang serius dan bertanggung jawab.
Pewarta : CRI