Wuhan, Radio Bharata Online - Es versi musim panas dari "teh rebus" atau es teh akhir-akhir ini semakin populer di kalangan konsumen muda Tiongkok.

Orang-orang berkumpul di sekitar kompor untuk merebus teh dan mengobrol, mengingat leluhur mereka yang dulu melakukan ritual yang sama. "Teh rebus" ini dengan cepat menjadi gaya hidup yang modis pada musim dingin yang lalu, ketika media sosial menjadi 'panas' dengan menunggangi gelombang kebangkitan gaya tradisional Tiongkok tersebut. 

Fenomena itu menginspirasi ratusan ribu komentar di Xiaohongshu, atau Little Red Book, platform media sosial Tiongkok yang berfokus pada gaya hidup, dan miliaran penayangan video di Douyin, TikTok versi Tiongkok.

Sekarang, memasuki musim panas, kompor panas sudah tidak cocok lagi. Jadi, api di kompor diganti es, teh rebus diganti es teh. Ubi jalar, kastanye, jeruk panggang tidak lagi disajikan, digantikan oleh kue kacang hijau, es krim, dan buah-buahan.

"Orang-orang di musim panas menolak untuk duduk di dekat api karena terlalu panas. Kami memperkenalkan set es teh pada akhir Maret, dan kami menjual 70 hingga 80 set setiap hari," ungkap Bie Zeqiang, pemilik kedai teh di Wuhan, Tiongkok tengah, Provinsi Hubei.

Pemilik kedai teh di Wuhan juga mencoba melokalkan apa yang mereka sajikan, seperti menggunakan sejenis teh hijau dari provinsi Enshi, dan menyajikannya dengan lemon dan jeruk nipis.

"Saya lebih suka rasa lemon dan teh yang menyegarkan, jadi yang ini menarik bagi saya," kata Liu, seorang pelanggan di Wuhan.

Sejumlah restoran juga memperkenalkan iced tea set untuk mengikuti tren konsumsi terkini di Tiongkok.