BEIJING, Radio Bharata Online - Segmen tingkat tinggi bagian kedua dari pertemuan ke-15 Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP15), berakhir di Montreal, Kanada, pada hari Sabtu (17/12).

Pertemuan tersebut telah memainkan peran yang sangat penting dalam mempromosikan proses negosiasi COP15, kata Huang Runqiu, presiden COP15 dan menteri ekologi dan lingkungan Tiongkok.

Huang mengatakan, Tiongkok akan terus memainkan perannya sambil memegang kepresidenan COP15, untuk membantu membentuk sinergi dari semua pihak, menutup celah dan membangun konsensus untuk mencapai kerangka kerja yang ambisius, realistis dan berimbang, yang diharapkan masyarakat internasional.

Sementara pada segmen sebelumnya saat Upacara Pembukaan Kamis lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya, mengajak para pihak untuk bekerja sama mempromosikan koeksistensi yang harmonis antara manusia dan Alam, membangun komunitas dari semua kehidupan di Bumi, dan menciptakan dunia yang bersih dan indah bagi semua.

Menurut Huang, pidato yang disampaikan Presiden Xi sangat menginspirasi para negosiator.

Sebanyak 190 perwakilan memberikan kontribusi aktif untuk pengembangan kerangka keanekaragaman hayati global pasca-2020. Mereka menyatakan kemauan politik yang kuat, untuk mencapai adopsi dan implementasinya.

Sebelumnya pada tanggal 13 Desember, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengakui “Inisiatif Shan-Shui” Tiongkok, untuk memulihkan 10 juta hektar ekosistem di seluruh negeri, sebagai salah satu dari 10 proyek perintis untuk melestarikan alam.   Inisiatif ini dihormati sebagai Unggulan Restorasi Dunia.

Inisiatif ambisius ini menggabungkan 75 proyek berskala besar, dari pegunungan hingga muara pesisir di seluruh Tiongkok.

Sejak awal periode Rencana Lima Tahun ke-13, yakni sejak 2016 sampai 2020, Tiongkok telah mengimplementasikan 44 proyek “Inisiatif Shan-Shui”, dan menyelesaikan perlindungan dan pemulihan ekologi lebih dari 3,5 juta hektar. (CGTN)