BEIJING, Radio Bharata Online - Dari meletakkan bunga di balai peringatan hingga memposting gambar lilin di media sosial, orang-orang Tiongkok memberikan penghormatan kepada mendiang para pahlawan nasional pada hari Jumat, dalam peringatan ke-86 Insiden 7 Juli 1937,  yang menandai dimulainya invasi besar-besaran Jepang ke Tiongkok, dan Perlawanan seluruh bangsa Tionghoa melawan penjajah Jepang.

Tahun 1937, penjajah Jepang membombardir Beijing yang dulu bernama Wanping, untuk mewujudkan ambisi kriminalnya mencaplok seluruh Tiongkok dengan paksa, dan menghasut Insiden Jembatan Lugou. Rakyat Tiongkok bangkit untuk melawan, dan menjadi kekuatan utama dalam perang anti-fasis dunia di Asia.

Di Balai Peringatan Songhu Shanghai untuk Perang Perlawanan melawan Agresi Jepang, perwakilan dari semua lapisan masyarakat memberikan keranjang bunga kepada para martir, di depan Monumen Pahlawan Tak Dikenal.

Sementara di kota-kota di Provinsi Jiangsu, Tiongkok Timur, para siswa mengunjungi balai peringatan setempat, untuk memberikan penghormatan kepada pahlawan nasional.

Selama perang, korban militer dan sipil Tiongkok mencapai lebih dari 35,8 juta, dan lebih dari 930 kota dihancurkan oleh penjajah Jepang.

Pada JUmat sore, "7 Juli 1937" telah menjadi tren teratas di Weibo, dengan sekitar 210 juta narasi, dan lebih dari 510.000 komentar.

Netizen menunjukkan semangat patriotik mereka, mengatakan bahwa mereka akan menjadi lebih mandiri, dan menghargai perdamaian yang diperoleh dengan susah payah.

Ada juga netizen yang menekankan risiko kebangkitan militerisme, akibat meningkatnya hasutan sayap kanan di Jepang, dengan mengatakan bahwa negara tersebut perlu serius merenungkan sejarah. (Global Times)