BEIJING, Radio Bharata Online - Para pakar Tiongkok mengatakan bahwa pembatasan harga Minyak akan membawa kerugian untuk Rusia, tetapi jangkauannya akan relatif terbatas, karena Rusia memiliki beberapa rencana cadangan. Senin lalu Rusia telah memperingatkan akan menanggapi pembatasan harga yang diterapkan Barat pada minyak mentahnya. Pembatasan ini adalah inisiatif yang dipimpin oleh AS, dan didukung oleh Kelompok Tujuh dan sekutu, yang bertujuan membatasi pendapatan Rusia.
Namun pada akhirnya harga masih akan dibayar oleh Eropa, yang semakin memperlebar jurang pemisah di antara mereka sendiri, dan melumpuhkan prinsip-prinsip pasar yang telah dibangun sendiri oleh Barat.
Sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, Rusia mengatakan bahwa batasan harga minyak Barat memang akan mengguncang pasar energi global, tetapi tidak akan mempengaruhi kemampuannya untuk mempertahankan operasi militer di Ukraina.
Menurut Reuters, juru bicara Kremlin Dmitry Sergeyevich Peskov mengatakan, jelas dan tak terbantahkan bahwa penerapan keputusan ini merupakan langkah menuju destabilisasi pasar energi dunia.
Eropa dan AS siap untuk menegakkan dua langkah terberat yang menargetkan ekspor minyak Rusia. Yang pertama adalah batasan harga yang diikuti oleh AS, negara-negara Kelompok Tujuh, Australia, dan Uni Eropa (UE), yang menetapkan harga tertinggi US$60 per barel untuk minyak mentah Rusia, mulai berlaku pada hari Senin (5/12). Sementara yang kedua adalah embargo, yang melarang negara-negara UE membeli sebagian besar minyak mentah Rusia.
Ketika ditanya apakah Tiongkok sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam kesepakatan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning Senin lalu pada konferensi pers rutin mengatakan, bahwa kerja sama energi antara Tiongkok dan Rusia, selalu dilakukan dalam semangat saling menghormati dan saling menguntungkan, serta memastikan pasokan energi global.
Kekhawatiran bahwa batasan harga baru dapat mengganggu pasokan global dalam beberapa bulan mendatang, telah tercermin dalam lonjakan harga minyak.
Cui Heng, asisten peneliti dari Pusat Studi Rusia Universitas Normal Tiongkok Timur, kepada Global Times Selasa lalu mengatakan, Moskow akan merasakan kesulitan, karena akan membatasi kemampuan Rusia untuk mengekspor minyak ke Barat, tetapi itu tidak akan menjadi dampak yang besar.
Menurut Heng, Rusia dapat menemukan pembeli seperti Tiongkok dan India untuk mengisi kekosongan, atau Rusia dapat menyiasatinya dengan mengekspor minyak terlebih dahulu ke negara-negara Timur Tengah, dan baru kemudian ke Eropa. Rusia juga dapat membujuk lebih banyak negara Eropa untuk mengajukan pengecualian bagi larangan baru tersebut. Dan pada akhirnya, harga mahal harus dibayar oleh Eropa sendiri, karena mereka harus mencari pengganti minyak mentah Rusia, dan membayar harga yang lebih tinggi untuk membeli gas cair dari Inggris dan AS. (GT)