Hainan, Radio Bharata Online - Menurut sebuah studi terbaru oleh para ilmuwan Tiongkok, pemanasan perairan pesisir Tiongkok telah meningkat secara signifikan sejak tahun 1950, dan frekuensi gelombang panas laut telah meningkat, menyebabkan efek berantai pada organisme laut dan lingkungan ekologi.
Awal bulan ini, para ahli dari Institut Oseanologi, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, bersama dengan lebih dari selusin pekerja ilmiah di bidang kimia kelautan, biologi kelautan, dan iklim, secara sistematis menjelaskan kepada dunia hukum evolusi fisika, kimia, dan biologi yang terkoordinasi di perairan pesisir Tiongkok dengan latar belakang perubahan iklim untuk pertama kalinya.
Studi tersebut menemukan bahwa sejak tahun 1950, suhu permukaan perairan pesisir Tiongkok, termasuk Laut Bohai, Laut Kuning, Laut Tiongkok Timur, dan Laut Tiongkok Selatan, telah meningkat rata-rata 0,10-0,14 derajat Celcius per dekade, dan meningkat secara signifikan sejak tahun 1980-an. Tren pemanasan juga telah memicu kejadian suhu tinggi yang lebih ekstrem, dan frekuensi, durasi, serta intensitas rata-rata "gelombang panas laut" di perairan pesisir Tiongkok telah meningkat secara signifikan.
Dengan perubahan latar belakang fisik dan kimiawi, bioma planktonik, bentik, dan ikan di perairan pesisir Tiongkok juga telah mengalami perubahan yang kompleks, yang diwakili oleh "miniaturisasi" dan perluasan ke arah utara spesies air hangat.
Berkat upaya pembangunan peradaban ekologi dan tata kelola lingkungan Tiongkok, tren eutrofikasi dan dampaknya terhadap perairan pesisir telah berkurang secara signifikan sejak awal abad ini.
Menurut prediksi model, dampak perubahan iklim di perairan pesisir Tiongkok mungkin akan semakin meningkat di masa depan. Para ahli di bidang ini menyarankan agar penelitian multidisiplin di perairan pesisir Tiongkok semakin diperkuat, dan metode kecerdasan buatan digunakan secara luas untuk memprediksi tren evolusi perairan pesisir Tiongkok dengan latar belakang pemanasan iklim global secara lebih akurat.