BEIJING, Radio Bharata Online - Armada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang dipimpin oleh kapal perusak besar kelas 10.000 ton Tipe 055, telah melakukan latihan berorientasi tempur di Laut Tiongkok Selatan, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan itu yang dipicu oleh Amerika Serikat.
Para ahli pada hari Rabu mengatakan, tanpa mentargetkan pihak ketiga manapun, dan ditujukan untuk menjaga keamanan nasional, latihan ini mengirimkan sinyal, bahwa provokasi AS terhadap Tiongkok tidak akan berhasil.
Sebelumnya, China Central Television (CCTV) pada hari Selasa melaporkan, kapal perusak besar Tipe 055 Dalian, kapal perusak Tipe 052D Changsha, dan fregat Tipe 054A Liuzhou dan Yueyang, yang melekat pada angkatan laut Komando Teater Selatan PLA, membentuk sebuah armada dan melakukan latihan terkoordinasi di Laut Tiongkok Selatan, selama lebih dari 80 jam yang berlangsung selama empat hari tiga malam. Dalam laporannya, CCTV menyebutkan, Latihan anti-kapal, anti-pesawat, dan anti-kapal selam dengan tembakan langsung, juga disertakan dalam latihan ini.
Latihan itu juga mengasah kemampuan berorientasi tempur masing-masing kapal dan armada secara keseluruhan, dan meletakkan dasar yang kuat bagi mereka untuk melakukan perjuangan militer yang fleksibel, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk menangani situasi darurat dengan cepat dan tepat.
Chen Xiangmiao, direktur Pusat Penelitian Angkatan Laut Dunia di Institut Nasional untuk Studi Laut Tiongkok Selatan, kepada Global Times pada hari Rabu mengatakan, latihan PLA itu merupakan latihan rutin yang tidak ditargetkan pada pihak ketiga mana pun. Tetapi latihan dilakukan dengan latar belakang geopolitik yang kompleks, di mana AS baru-baru ini menggalang dukungan dari Filipina, dan melaksanakan latihan bersama Balikatan terbesar di Laut Tiongkok Selatan, yang menargetkan Tiongkok.
Latihan rutin Tiongkok dapat berfungsi sebagai pesan bahwa Tiongkok tidak akan berkompromi atas provokasi AS, yang menabur perselisihan melalui kekuatan militernya, dan bahwa kedua negara harus berdialog dan mencari kerja sama. (Global Times)