Tanggal 22 Juni adalah Hari Raya Peh Cun menurut kalender lunar Tiongkok. Hari raya tradisional ini mengandung makna budaya yang sangat mendalam karena memperingati penyair patriotik Qu Yuan, serta menyiratkan rasa cinta terhadap keluarga dan tanah air. Dalam silsilah spiritual orang Tiongkok, keluarga adalah dasar negara, dan negara adalah perluasan dari keluarga. Menjelang Hari raya Peh Cun, marilah kita mengenang kembali perkataan tulus Presiden Xi tentang keluarga dan negara, merasakan rasa cinta yang mendalam terhadap keluarga dan negara.

Sejak dahulu kala, bangsa Tionghoa selalu mementingkan keluarga. Berbagai peribahasa seperti keharmonisan keluarga, kebahagiaan generasi tua dan muda, menghormati kaum lansia dan mencintai anak-anak, serta rumah tangga yang hemat dan rajin, telah memanifestasikan nilai-nilai orang Tiongkok. Keluarga bagaikan sebuah negara kecil, dan negara dibentuk oleh jutaan keluarga. Berikut ini adalah makna penting yang diuraikan Xi Jinping mengenai hubungan keluarga dengan negara:

“Keluarga bagaikan sel dasar masyarakat sekaligus sekolah pertama dalam kehidupan. Tak peduli betapa besarnya perubahan zaman dan perubahan pola kehidupan, kita harus mementingkan pembangunan keluarga, mengembangkan budi pekerti keluarga tradisional bangsa Tionghoa, dan mendorong keharmonisan keluarga, supaya jutaan keluarga menjadi dasar penting untuk mendorong pembangunan negara, kemajuan bangsa dan keharmonisan sosial.”

Keluarga dan negara saling bergantung, dan senasib sepenanggungan. Selama ribuan tahun ini, terlepas dari kemiskinan selalu menjadi impian orang Tiongkok. Akhirnya impian ini dapat terwujud pada tahun 2021, sebanyak 98,99 juta orang penduduk miskin di pedesaan Tiongkok yang berada di bawah standar kemiskinan telah terlepas dari kemiskinan secara menyeluruh. Saat mengumumkan kemenangan menyeluruh dari pengentasan kemiskinan ini, Xi Jinping mengutip sebuah puisi Tiongkok untuk menguraikan harapan mendalam bangsa Tionghoa terhadap pengentasan kemiskinan.

“Dari puisi Qu Yuan yang berbunyi ‘Sambil menghela nafas panjang, aku menyeka air mata, meratapi betapa sulitnya kehidupan’, sampai puisi Du Fu yang berbunyi ‘Di mana aku bisa mendapatkan puluhan juta rumah yang besar agar dapat dibagikan kepada semua orang miskin di dunia dan membuat mereka tersenyum?’, hingga puisi Sun Yat Sen yang berbunyi ‘tak ada yang lebih berharga dari keluarga yang tercukupi sandang pangannya’ yang artinya berharap keluarga kita penuh sandang pangan , semua itu telah mencerminkan harapan mendalam bangsa Tionghoa untuk terlepas dari kemiskinan dan memiliki kehidupan yang cukup sandang pangan.”

Pewarta : CRI