KTT NATO ditutup di Vilnius pada hari Rabu kemarin (12/7) waktu setempat. Komunike bersama KTT yang dikeluarkan sehari sebelumnya telah belasan kali menyebut Tiongkok, dan sekali lagi menyatakan bahwa Tiongkok merupakan “tantangan sistemik” bagi keamanan Eropa-Atlantik. Dibandingkan dengan dokumen “Konsep Strategis” yang diluluskan KTT NATO di Madrid pada bulan Juni tahun lalu, komunike bersama KTT kali ini berulang kali “menyebut nama” Tiongkok, bahkan tampak seperti menggurui Tiongkok.

Menurut agenda NATO, KTT kali ini terutama membahas situasi Ukraina dan masalah penambahan anggota, mengapa NATO kembali “menggurui” Tiongkok? Sebenarnya hal ini tidak aneh. NATO adalah aliansi militer terbesar di dunia, penggerak fundamentalnya untuk terus bertahan adalah adanya pesaing. Bagaimana menentukan siapa pesaingnya? Dilihat dari dokumen “Konsep Strategis” versi baru NATO pasca Perang Dingin, setiap pembaruannya hampir selalu mengikuti penyesuaian strategi AS, dan mencerminkan tuntutan strategis AS.

Secara objektif, dalam intern NATO pun ada sejumlah suara yang rasional. Sejumlah negara anggota seperti Prancis sebagai wakilnya pun terus mengupayakan kemandirian strategis Eropa, dan menganggap bahwa NATO seharusnya tidak melintasi batas geografis Atlantik Utara, menjangkau Asia-Pasifik dan mendirikan kantor penghubungnya di Jepang. Presiden Prancis Macron, dalam jumpa pers seusai KTT menyatakan, NATO adalah organisasi Atlantik Utara, sedangkan Jepang tidak terletak di Atlantik Utara. Suara serupa memerlukan lebih banyak kesepahaman dalam NATO. Jika NATO bersikeras mengikuti AS, mengacaukan Eropa bahkan ingin mengacaukan Asia-Pasifik, yang akan menyambut mereka pasti adalah perlawanan yang tegas.

Pewarta : CRI