JAKARTA, Bharata Online - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menilai perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi momentum untuk memperkuat sikap saling menghargai di tengah umat.
Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena didasari metode dan argumen yang sama-sama kuat.
"Ini soal perbedaan metodologi yang saya kira tidak perlu dipertajam," ujarnya.
Muhadjir menjelaskan bahwa perbedaan penentuan 1 Syawal berkaitan dengan cara memahami hilal, baik melalui rukyat maupun hisab.
Ia juga menyinggung penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal oleh Muhammadiyah, yang menetapkan awal bulan berdasarkan posisi hilal secara global.
Dalam sistem tersebut, jika hilal sudah terlihat di satu wilayah dunia, maka berlaku untuk seluruh dunia.
Menurut Muhadjir, perbedaan waktu perayaan Lebaran justru harus menjadi sarana mempererat hubungan sosial.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga silaturahmi dan tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan.
Senada, perwakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fadhil Mahdi menyebut perbedaan ini bukan hal baru dan justru bisa menjadi bagian dari proses menuju kesatuan kalender Islam di masa depan.
Fadhil juga menyampaikan sisi positif dari perbedaan tersebut, di mana sebagian keluarga dapat merayakan Lebaran lebih dari satu kali dengan saling mengunjungi.
Ia berharap ke depan umat Islam dapat memiliki sistem kalender Hijriah yang lebih seragam sehingga perbedaan dapat diminimalkan.
Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya menjadi momen kemenangan setelah Ramadhan, tetapi juga sarana memperkuat toleransi, persatuan, dan kebersamaan di tengah keberagaman. [Pantau.com]