BEIJING, Radio Bharata Online - Musim panas yang ekstrem di Tiongkok utara, mendorong diskusi tentang perubahan iklim pada Pertemuan Tahunan ke-14 Forum Ekonomi Dunia (WEF) menjadi lebih relevan, karena negara-negara Asia menghadapi tantangan bersama untuk mempertahankan pembangunan, dan secara bersamaan mengatasi perubahan iklim.
Rasa kebutuhan dan urgensi yang kuat, dapat dirasakan di antara perwakilan Asia yang mengangkat topik tersebut di acara Summer Davos, yang diadakan di Tianjin, Tiongkok Utara, dari Selasa hingga Kamis.
Para hadirin menyerukan upaya bersama dan proaktif untuk mengatasi masalah yang merupakan beban sejarah, akibat industrialisasi yang dipimpin Barat. Tiongkok berinisiatif mengambil peran utama untuk menanganinya bersama-sama.
Ma Jun, direktur Institut Urusan Publik dan Lingkungan yang berbasis di Beijing, kepada Global Times di forum tersebut mengatakan, bahwa terlepas dari prinsip tanggung jawab bersama tetapi berbeda (CBDR) yang diakui dengan baik dalam mengatasi perubahan iklim, kenyataannya adalah bahwa kawasan Asia-Pasifik menghadapi "paradoks" paling akut dari pembangunan versus dekarbonisasi.
Menurut perkiraan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF), Asia dengan populasinya yang besar, serta laju industrialisasi dan urbanisasi yang cepat, diproyeksikan menyumbang sekitar 70 persen dari seluruh pertumbuhan global pada 2023. Sedangkan Tiongkok sendiri menyumbang 34,9 persen. Wilayah tersebut menghasilkan 50 persen dari emisi rumah kaca global.
Di antara 30 negara yang paling rawan terdampak perubahan iklim, 13 diantaranya berada di Asia-Pasifik.
Langkah pengurangan karbon yang paling cepat adalah beralih ke energi terbarukan, di mana dalam hal ini Tiongkok telah memainkan peran integral.
Kantor berita Xinhua melaporkan, negara ini memiliki daya terpasang yang baru untuk energi terbarukan, mencapai 152 juta kilowatt pada tahun 2022, terhitung 76,2 persen dari kapasitas pembangkit listrik yang baru terpasang.
Opini yang diterbitkan Senin oleh Bloomberg mengatakan, bahwa Tiongkok menghasilkan tenaga angin dua kali lipat dari AS, dan sepertiga dari tenaga surya dunia. Tiongkok juga menjadi penyedia utama kapasitas tenaga surya ke negara lain, yang menghasilkan 75 persen kapasitas fotovoltaik dunia. (Global Times)