BEIJING, Radio Bharata Online - Data sensus terbaru Tiongkok menunjukkan, bahwa empat kota tingkat pertama di daratan, yakni Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen, tahun lalu mencatat penurunan populasi untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir.

Para ahli demografi menunjukkan, penurunan populasi di Guangzhou dan Shenzhen lebih merupakan fenomena jangka pendek, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor tak terduga seperti pembatasan COVID-19.

Daya tarik kota-kota besar untuk populasi akan tetap ada dalam waktu dekat, dan kualitas populasi akan menggantikan kuantitas, sebagai motivasi baru pertumbuhan, di kota-kota besar.

Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, pada hari Jumat merilis data sensus tahunan, yang menunjukkan populasi penduduk tetap kota itu pada tahun 2022 mencapai 18,73 juta, turun 76.500 dari tahun 2021.

Penurunan di Shenzhen dan Guangdong patut dicatat, karena dua kota ini tidak pernah mengalami penurunan populasi sejak akhir 1970-an.

Biro statistik kota mengumumkan pada 8 Mei, bahwa populasi penduduk tetap pada tahun 2022 adalah 17,66 juta, artinya 19.000 lebih rendah dari tahun 2021.

Secara umum, populasi penduduk tetap kota ini telah meningkat lebih dari 7 juta pada dekade sebelumnya.

Beijing dan Shanghai juga mengalami penurunan populasi pada tahun 2022. Menurut data resmi, populasi penduduk tetap Shanghai turun 135.400 pada tahun 2022, sementara populasi Beijing turun 43.000.

Ahli demografi independen, He Yafu kepada Global Times pada hari Senin mengatakan, populasi Beijing dan Shanghai telah menurun selama beberapa tahun, karena keduanya memberlakukan pembatasan jumlah penduduk dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan Guangzhou dan Shenzhen, jarang sekali mengalami situasi seperti itu.

Otoritas Guangzhou, mengaitkan penurunan populasi yang jarang terjadi itu, dengan arus keluarnya orang karena dampak epidemi pada tahun 2022. (Global Times)