Israel Degfa, Ketua Pejabat Eksekutif Utama (CEO) Kerchanshe Trading Private Limited Company (PLC) mengatakan, munculnya pasar kopi Tiongkok telah menawarkan peluang besar bagi produsen kopi ekspor di Etiopia dan di tempat lain di seluruh dunia.
Angka dari Otoritas Kopi dan Teh Etiopia (Ethiopian Coffee and Tea Authority/ECTA) menunjukkan bahwa Tiongkok mengimpor 5.879,34 metrik ton kopi Etiopia senilai 30,4 juta dolar AS (Rp453,4 miliar) selama tahun fiskal 2021/2022 yang berakhir pada 7 Juli, melonjak 31 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Sejujurnya, ini (pasar kopi Tiongkok) merupakan peluang baru untuk konsumsi kopi dunia," kata Israel dikutip dari Xinhua.
"Kami melihat pasar Tiongkok terfokus. Potensinya ada di sana," katanya.
"Di Tiongkok, setiap tahun, ekspor kami meningkat dua kali lipat, pertumbuhan 100 persen," kata Israel, seraya menambahkan bahwa perusahaannya, produsen dan eksportir kopi terbesar di Etiopia, berencana untuk memperluas ekspornya ke Tiongkok.
Menurut data dari Otoritas Kopi dan Teh Etiopia, Tiongkok telah menjadi pengimpor kopi Etiopia terbesar kedelapan selama sepuluh bulan pertama tahun fiskal 2021/2022.
Israel, yang berasal dari keluarga petani kopi, menuturkan bahwa kualitas dan rasa kopi merupakan hasil dari upaya dan proses ilmiah yang berdedikasi, seraya mengatakan bahwa perusahaannya beroperasi dengan penuh semangat untuk memastikan kualitas dan menghasilkan varietas kopi yang terus ditingkatkan untuk memenuhi harapan pembeli internasional.
Kerchanshe memproduksi dan mengekspor berbagai varietas kopi dengan mengoperasikan lebih dari 63 tempat pencucian, 56.000 petani, dan juga 1.500 hektare lahan yang didedikasikan untuk penelitian dan pengembangan varietas kopi yang lebih baik.
"Perusahaan kami fokus dan bekerja, dalam delapan tahun terakhir, di agribisnis, terutama kopi dan buah-buahan lainnya juga," kata Israel.
Menurut Israel, perusahaannya akan meningkatkan nilai ekspor kopi secara signifikan pada tahun fiskal 2022/2023 yang dimulai pada 8 Juli.
Etiopia merupakan produsen kopi terbesar di Afrika, mengekspor 300.000 metrik ton kopi selama 12 bulan terakhir, yang pada akhirnya menghasilkan pendapatan 1,4 miliar dolar AS (Rp20,8 triliun), menurut Kementerian Pertanian. Dibandingkan dengan pendapatan tahunan ekspor kopi rata-rata, negara tersebut menghasilkan pendapatan tambahan sebesar 500 juta dolar AS (Rp7,45 triliun) selama tahun fiskal yang baru saja ditutup dengan volume ekspor yang meningkat ke pasar kopi global.