Hong Kong, Radio Bharata Online - Beberapa institusi asing telah menaikkan perkiraan mereka mengenai pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang mencerminkan pandangan positif mengenai perkembangan yang kuat di negara ini.

Konferensi Kerja Ekonomi Pusat tahunan Tiongkok diadakan di Beijing dari hari Senin (11/12) sampai Selasa (12/12), di dalamnya terdapat diskusi resmi mengenai peningkatan kebijakan untuk stabilitas dan pertumbuhan ekonomi menarik perhatian dunia.

Pertemuan ini diadakan setelah Fitch Ratings, salah satu dari tiga lembaga pemeringkat kredit internasional terkemuka di dunia, mengeluarkan sebuah laporan pada tanggal 8 Desember 2023, yang berisi revisi prediksi pertumbuhan ekonomi RRT sebesar 5,3 persen, naik dari 4,8 persen yang diprediksi sebelumnya.

"Peningkatan ini mencerminkan kinerja yang lebih kuat yang kami lihat di kuartal ketiga dibandingkan dengan ekspektasi kami. Kami melihat dukungan kebijakan, terutama dukungan kebijakan fiskal, memainkan peran yang lebih besar di tahun 2024 untuk membantu menstabilkan pertumbuhan ekonomi di tengah berbagai tantangan yang ada," ujar Jeremy Zook, Direktur Asia Sovereign Ratings di Fitch Ratings.

Sementara itu, Nomura, sebuah grup layanan keuangan global, menyimpulkan bahwa konsumsi adalah kekuatan pendorong utama untuk pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini. Oleh karena itu, grup ini merekomendasikan untuk mengejar perluasan permintaan domestik dan memanfaatkan kebutuhan konsumen untuk meningkatkan investasi.

"Baik itu industri ritel atau industri jasa besar, level sektor-sektor ini telah melampaui level tahun 2019," kata Lu Ting, Kepala Ekonom Nomura Tiongkok.

Pada hari Rabu (13/12), Bank Pembangunan Asia (ADB) menaikkan proyeksi ekonomi untuk negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik untuk tahun ini dari 4,7 persen menjadi 4,9 persen, dengan proyeksi untuk tahun depan tetap stabil di 4,8 persen.

Institusi tersebut juga memperkirakan ekonomi Tiongkok akan berekspansi 5,2 persen tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 4,9 persen.

Dikatakan bahwa pertumbuhan negara-negara berkembang di Asia cukup menjanjikan, dengan permintaan domestik yang baik, pengiriman uang yang kuat, dan pemulihan pariwisata menjadi kekuatan pendorong utama pertumbuhan.

Tapi, kawasan ini masih menghadapi tekanan, seperti kenaikan suku bunga global dan permintaan yang lebih rendah di negara-negara maju.