Jakarta, Radio Bharata Online - Konselor Menteri bidang ekonomi dan komersial Kedutaan Besar Tiongkok untuk ASEAN, Li An, pada konferensi pers hari Jum'at (19/5) lalu di Jakarta mengatakan sejak terjalinnya hubungan dialog Tiongkok-ASEAN pada tahun 1991, kerjasama ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan ASEAN terus ditingkatkan. 

Li An mengatakan pada tahun 1991, volume perdagangan bilateral kurang dari $8 miliar. Pada tahun 2009, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar ASEAN untuk pertama kalinya dan telah mempertahankannya selama 14 tahun berturut-turut. Dan di 2019, ASEAN melampaui AS untuk menjadi mitra dagang terbesar kedua Tiongkok. 

Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, ASEAN juga mampu melampaui Uni Eropa (UE) untuk menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok, yang merupakan terobosan bersejarah. Kemudian di tahun 2022, volume perdagangan bilateral mencapai $975,3 miliar, yang hampir 122 kali lebih besar dari pada tahun 1991. Keduanya telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama 3 tahun berturut-turut.

Sedangkan tahun ini, Li An mengatakan bahwa dalam 4 bulan pertama tahun 2023, ASEAN pun mampu mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Tiongkok dengan volume perdagangan meningkat 13,9 persen dan menyumbang 15,7 persen dari total perdagangan luar negeri Tiongkok. 

Di saat perdagangan global mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19, perdagangan Tiongkok-ASEAN telah mengatasi dampak negatif pandemi dan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi baik dalam skala maupun kualitas. Hal ini sepenuhnya menunjukkan ketahanan yang kuat dari hubungan ekonomi dan perdagangan Tiongkok-ASEAN dan sangat mendukung pemulihan ekonomi regional, katanya. 

Li An mengatakan menurut data statistik China Custom, rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan perdagangan bilateral dari 2020-2022 adalah 19,4 persen, lebih tinggi dari rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan sebelum pandemi (dari 2017-2019, rata-rata 11,6 persen). 

Sedangkan pada tahun 2022, volume perdagangan antara kedua belah pihak meningkat 11,2 persen, sekitar 1,5 kali lipat dari tahun 2019, dan proporsi perdagangan Tiongkok-ASEAN dalam total perdagangan luar negeri Tiongkok meningkat dari 14 persen pada tahun 2019 menjadi 15,5 persen pada tahun 2022, katanya. 

Dari tahun 2020-2022, volume perdagangan antara Tiongkok dan Brunei meningkat hampir dua kali lipat, dan volume perdagangan dengan Indonesia, Malaysia, dan Kamboja meningkat lebih dari 50 persen, katanya. 

Di balik pencapaian luar biasa ini, Li An menyoroti tiga hal. Pertama, keunggulan komplementer dari industri dan rantai pasokan kedua belah pihak, yang mempertahankan ketahanan yang kuat selama Covid-19. Kedua, keunggulan kelembagaan RCEP dan FTA Tiongkok-ASEAN, yang menghasilkan efek penciptaan perdagangan yang besar. Ketiga, keunggulan konektivitas di kawasan, yang membantu pertukaran ekonomi dan perdagangan menjadi lebih lancar dan nyaman.

Menurutnya, dengan kemajuan yang stabil dari pembangunan bersama Belt & Road Initiative yang berkualitas tinggi antara Tiongkok dan ASEAN, skala investasi bilateral terus berkembang. Letak geografis yang berdekatan, kemampuan konsumsi yang meningkat, perbaikan infrastruktur yang berkelanjutan, dan prospek pasar yang luas membuat ASEAN semakin menjadi salah satu area pilihan bagi perusahaan Tiongkok untuk berinvestasi di luar negeri. Pada saat yang sama, Tiongkok juga merupakan tujuan penting bagi investasi luar negeri ASEAN. Investasi dua arah telah melampaui 340 miliar dolar AS per Juli tahun lalu secara kumulatif.

Li An mengatakan kerja sama rantai pasokan rantai industri Tiongkok-ASEAN menjadi semakin erat dan terintegrasi secara mendalam. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan modal asing di industri manufaktur ASEAN terus meningkat, dan telah menjadi tujuan penting investasi luar negeri oleh perusahaan manufaktur Tiongkok. 

Menurut statistik, pada tahun 2021, investasi asing langsung (FDI) ASEAN menyumbang 12 persen dari total FDI dunia, di mana investasi manufaktur tumbuh paling kuat, dengan peningkatan sebesar 134 persen, dan jumlahnya mencapai 45 miliar dolar AS, di antaranya FDI Tiongkok ke ASEAN meningkat sebesar 96 persen YoY (tahun-ke-tahun), mencapai hampir 14 miliar dolar AS, menduduki peringkat pertama dalam FDI manufaktur ASEAN selama tiga tahun berturut-turut, katanya. 

Di balik pencapaian tersebut, Li An mengungkapkan bahwa Tiongkok dan ASEAN selalu menjunjung tinggi multilateralisme, perdagangan bebas, dan pembukaan pasar. Rantai industri dan rantai pasokan saling berhubungan dan saling melengkapi, dan masing-masing memiliki kekuatan tersendiri dalam hal sistem industri, ukuran pasar, faktor tenaga kerja, infrastruktur logistik, dan lingkungan bisnis.

Ke depan, karena pemulihan ekonomi pasca-pandemi telah menciptakan permintaan yang luas, ekonomi digital yang terus berkembang, penandatanganan RCEP dan peningkatan ACFTA memberikan dorongan yang cukup, Li An meyakini Tiongkok dan ASEAN memiliki kepentingan bersama yang luas dalam berbagi pasar berskala super besar dan mengalokasikan faktor produksi secara rasional, sehingga kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok-ASEAN akan menikmati prospek pembangunan yang lebih luas.

"Saya yakin bahwa dengan upaya bersama kedua belah pihak, kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok-ASEAN akan mencapai hasil yang lebih bermanfaat, dan meletakkan dasar yang kokoh untuk lebih mendorong pembangunan komunitas masa depan bersama Tiongkok-ASEAN," ujarnya.