NEW YORK, Radio Bharata Online - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, pada hari Kamis menyerukan upaya untuk bersatu demi perdamaian.

Pada konferensi pers mengenai prioritasnya pada tahun 2024 di markas besar PBB New York, Guterres mengatakan pentingnya untuk mengupayakan perdamaian yang adil dan berkelanjutan, namun perdamaian yang sejalan dengan Piagam PBB dan hukum internasional.

Menurut Guterres, ini adalah agenda yang panjang dan terperinci, namun beragam tantangan dihubungkan oleh benang merah, yakni Perdamaian.  Perlunya perdamaian dalam segala dimensinya, karena perdamaian adalah ikatan yang mengikat.

Pejabat tinggi PBB tersebut berbicara tentang meningkatnya konflik, dan perpecahan geopolitik yang mengancam perdamaian dan keamanan, polarisasi yang melanda masyarakat, semakin lebarnya kesenjangan yang berkedok perdamaian dengan keadilan, dan peningkatan emisi dan suhu global yang mengkhawatirkan, yang menantang perdamaian dengan alam. 

Namun di tengah segudang persoalan, Guterres berkeyakinan melihat ada secercah harapan.  Dikatakan, banyak hal yang bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari mengakhiri konflik, hingga mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan, mengambil tindakan terhadap perubahan iklim, dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.  Menurut Sekjen PBB, langkah ke depan sudah jelas, meski dunia penuh tantangan.  Hal ini merupakan seruan untuk melakukan percakapan serius antar negara, melakukan reformasi terhadap institusi-institusi yang sudah ketinggalan zaman, dan merangkul multipolaritas dengan mekanisme pemerintahan multilateral yang efektif, diperbarui, dan inklusif.

Saat Guterres menguraikan Agenda Baru untuk Perdamaian, Stimulus Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), Global Digital Compact, dan inisiatif lainnya, dia juga menekankan pentingnya solusi terhadap konflik di Ukraina dan Gaza, serta menyoroti konsekuensi global yang besar dari konflik tersebut.

Menurutnya, tantangannya sangat berat, dan jalannya juga rumit,  Namun seruan untuk perdamaian, persatuan, dan tindakan, bergema jauh di dalam dan di luar PBB. (CGTN)