Yinchuan, Radio Bharata Online - Seorang pakar Tiongkok mengatakan rencana tata kelola pasca-konflik untuk Gaza yang dirancang oleh Amerika Serikat dan beberapa negara lain hanyalah strategi kursi karena tidak ada tanda-tanda bagi Israel untuk menghentikan serangan bersenjatanya di daerah kantong tersebut.
Li Shaoxian, Presiden Chinese Academy of Arab Studies di Universitas Ningxia, mengatakan konflik yang masih membara antara Israel dan Hamas telah memasuki bulan keempat ketika tentara Israel menyesuaikan operasi militernya di Gaza karena meningkatnya tekanan internal dan eksternal.
Israel menetapkan dua tujuan pada awal operasi militernya, yakni menumpas Hamas dan membebaskan semua sandera Israel yang ditahan oleh organisasi militer Palestina tersebut. Belakangan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menambahkan satu tujuan lagi, yaitu agar Jalur Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel setelah konflik berakhir.
Dalam sebuah wawancara dengan China Central Television pada hari Senin (8/1), Li Shaoxian, Presiden Chinese Academy of Arab Studies di Ningxia University, mengatakan:
"Setelah lebih dari tiga bulan operasi militer, Israel masih jauh dari mencapai dua atau tiga target yang telah ditetapkan. Sementara itu, Israel menghadapi tekanan internal dan eksternal yang meningkat. Belum lama ini, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengumumkan penyesuaian operasi militernya di Jalur Gaza, dengan menarik beberapa pasukan elitnya dari Gaza utara. Gallant juga menyatakan militer Israel telah memasuki fase ketiga atau tahap operasi baru," kata Li.
Li mencatat bahwa memasuki tahap baru ini berarti militer Israel akan menggunakan serangan yang lebih tepat untuk menghabisi pasukan Hamas di Gaza sekaligus mengurangi korban sipil, yang merupakan penyesuaian strategis di bawah tekanan internal dan eksternal yang meningkat.
"Saat ini, masih belum ada tanda-tanda bahwa konflik akan segera berakhir. Meskipun AS dan beberapa negara lain sedang membuat rencana tata kelola pasca-konflik untuk Gaza, namun karena situasi di medan perang masih belum jelas, maka pengaturan apapun untuk Gaza pada tahap ini hanya merupakan strategi di atas kertas. Yang pasti, semakin lama konflik berlarut-larut, semakin mengerikan situasi bencana di Jalur Gaza. Faktanya, lebih dari 2 juta orang di Gaza (hampir seluruh penduduk daerah kantong tersebut) sedang menghadapi kelaparan," ujarnya.
Menurut Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza pada hari Minggu (7/1), serangan Israel sejauh ini telah merenggut nyawa 22.835 warga Palestina di Gaza, selain 58.416 yang terluka.
Sementara itu, pasukan Israel menyerbu daerah Jenin di Tepi Barat utara antara Sabtu (6/1) dan Minggu (7/1), menyebabkan tujuh warga Palestina tewas.
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ketujuh korban tersebut adalah warga sipil, termasuk empat bersaudara dari desa Muthalath asy-Syuhada di Jenin.
Polisi perbatasan paramiliter Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa selama penggerebekan tersebut, sebuah kendaraan militer menabrak sebuah bom tepi jalan, yang mengakibatkan tewasnya seorang petugas polisi perbatasan. Seorang petugas lainnya mengalami luka serius dan dua petugas lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan peluru.
Tentara Israel mengatakan pada hari Sabtu (6/1) bahwa mereka telah "menyelesaikan pembongkaran" struktur komando Hamas di Jalur Gaza utara. Sebagai tanggapan, pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, mengatakan bahwa masih ada tentara Hamas yang bertempur dengan tentara Israel di Gaza utara.
Hamdan juga menunjukkan bahwa 109 jurnalis telah "terbunuh oleh serangan Israel" di Jalur Gaza, dan ia menuduh Amerika Serikat menyediakan senjata dan peralatan untuk tentara Israel.