BEIJING, Radio Bharata Online - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning menyebut Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) sebagai contoh keberhasilan Prakarsa Sabuk dan Jalan (BRI) yang diinisiasi pemerintah Tiongkok.
Dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (14/9), Mao menyebut, Kereta Cepat Jakarta-Bandung adalah proyek unggulan di bawah kerja sama 'Belt and Road Initiative' antara Tiongkok dan Indonesia, yang selama ini mendapat perhatian pribadi dari kedua pemimpin negara. BRI adalah program yang diperkenalkan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 2013 dengan nama One Belt One Road (OBOR).
Saat itu Xi Jinping ingin menghidupkan kembali kejayaan Jalur Sutera (Silk Road) pada abad ke-21. Setidaknya 147 negara, termasuk Indonesia, sudah sepakat masuk progam BRI, dengan nilai investasi sejak 2013 hingga paruh pertama 2022 telah mencapai 932 miliar dolar AS.
Untuk mengumpulkan pendanaan bagi proyek-proyek infrastruktur BRI, dibentuklah Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang 26 persen sahamnya dikuasai Tiongkok. Indonesia sendiri menjadi penyetor terbesar ke-8 dengan 672 juta dolar AS, yang dibayarkan bertahap dalam lima tahun.
KCJB, menurut Mao Ning, juga menjadi contoh sukses Tiongkok bersama dengan negara di kawasan dalam mengejar modernisasi.
Menurut Mao, Tiongkok berharap dan percaya bahwa kereta berkecepatan tinggi akan membantu memudahkan masyarakat Indonesia dalam bertransportasi, dan akan mendorong potensi lokal untuk pembangunan ekonomi. (Global Times)