BEIJING, Bharata Online - Penerimaan Gen Z global terhadap budaya Tiongkok bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, budaya pop Tiongkok telah mendunia.
Film animasi blockbuster Tiongkok "Ne Zha 2" memecahkan rekor box office. Boneka koleksi Labubu memicu kegilaan mode global. Black Myth: Wukong , yang terinspirasi oleh novel mitologi Tiongkok A Journey to the West , memenangkan berbagai Game Awards. Sementara itu, Xiaohongshu – yang sering disebut Instagram-nya Tiongkok – telah menjadi platform utama untuk pertukaran budaya antara pengguna Tiongkok dan internasional.
Di balik daya tarik budaya ini terletak kebangkitan kekuatan lunak Tiongkok yang lebih luas. Menurut Indeks Kekuatan Lunak Global 2025 dari Brand Finance, Tiongkok berada di peringkat kedua dunia – posisi tertingginya hingga saat ini, tepat di belakang Amerika Serikat.
Hal ini sebagian dapat dikaitkan dengan upaya keterbukaan China yang berkelanjutan. Hingga November lalu, 48 negara telah memperoleh manfaat dari kebijakan bebas visa China, yang memberikan akses kepada teman-teman asing untuk melihat Tiongkok secara menyeluruh, beragam, dan komprehensif. Bagi mereka yang tidak dapat melakukan perjalanan, platform seperti Xiaohongshu menyediakan jendela digital ke kehidupan kontemporer China. Paparan langsung yang dipadukan dengan interaksi daring telah membantu menghancurkan stereotip, membongkar disinformasi, dan menyajikan gambaran sebenarnya tentang Tiongkok kepada dunia.

Para wisatawan Gen Z berfoto selfie di Kuil Surga di Beijing, ibu kota Tiongkok, 11 September 2025. /CFP
Yang tak kalah penting adalah bagaimana budaya Tiongkok menyebar. Pertukaran budaya yang dilakukan dengan syarat yang setara akan menumbuhkan apresiasi timbal balik – bukan asimilasi paksa. Inti dari Inisiatif Peradaban Global Tiongkok adalah seruan untuk dialog antar peradaban: berbagi ide, bukan memaksakan nilai-nilai. Hal itu membantu menjelaskan mengapa banyak orang di seluruh dunia kini merangkul budaya tradisional Tiongkok dengan mudah dan penuh minat.
Inovasi teknologi juga berperan penting. Ekspor teknologi energi hijau dan solusi iklim menarik minat generasi muda yang sadar lingkungan, sementara terobosan dalam platform AI seperti DeepSeek dan robot humanoid canggih menarik Generasi Z ke produk-produk Tiongkok.
Sekarang, waktu Tiongkok
Apa yang bermula sebagai meme TikTok yang lucu tentang "Menjadi Orang Tionghoa" telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih substansial. Banyak anak muda yang awalnya mendekati praktik gaya hidup ini dengan main-main kini menikmati manfaat nyata dan memadukannya ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, sebuah tanda kecil namun signifikan dari pergeseran sikap.
Seabad yang lalu, Tiongkok, yang dilemahkan oleh kekacauan dalam negeri dan agresi asing, sering dipandang oleh orang asing dengan sikap meremehkan. Sedikit orang pada saat itu yang dapat membayangkan bahwa orang Barat suatu hari nanti akan menghormati orang Tiongkok dan dengan hangat mengadopsi kebiasaan mereka.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi Tiongkok, interaksi semakin berlangsung dalam kedudukan yang lebih setara. Difusi budaya kini terjadi melalui pilihan, bukan pemaksaan. Tiongkok tidak lagi dipandang melalui kacamata inferioritas, sebuah pergeseran yang tercermin dalam popularitas global baik budaya pop maupun budaya tradisionalnya. [CGTN]