SURAKARTA, Bharata Online -Puncak perayaan Grebeg Sudiro 2026 kembali menyedot ribuan warga dan wisatawan di kawasan Kampung Sudiroprajan, Pasar Gede, Surakarta, Minggu (15/2/2026). Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Imlek ini tak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga menegaskan wajah toleransi Kota Solo yang hidup dalam keseharian.
Digelar rutin sejak 2007, Grebeg Sudiro dikenal sebagai simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Solo. Tradisi ini tumbuh dari inisiatif masyarakat Sudiroprajan dan berkembang menjadi agenda wisata unggulan Kota Bengawan.
Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat biasa, ini simbol sejati akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang terjalin harmonis. Di sini kue keranjang bersanding dengan gunungan, barongsai menari bersama reog. Inilah wajah Solo dan wajah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yang nyata
Prosesi kirab diawali dengan penampilan cucuk lampah penari sendratari, atraksi 12 Shio dari Klenteng Tien Kok Sie, hingga Liong Macan Putih. Ribuan warga memadati rute kirab untuk menyaksikan perpaduan kesenian tradisional Jawa dan Tionghoa yang tampil bergantian, menciptakan suasana penuh kebersamaan.
Tahun ini, Grebeg Sudiro kembali masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan budaya lokal Solo mampu bersaing di tingkat nasional.
Menurut Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, konsistensi penyelenggaraan Grebeg Sudiro menunjukkan bahwa tradisi bisa dikelola secara profesional tanpa kehilangan nilai kearifan lokal. Bahkan, festival ini dinilai menjadi contoh bagaimana budaya dapat menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan.
Di balik kemeriahan kirab dan atraksi budaya, Grebeg Sudiro juga memberi dampak ekonomi yang nyata. Ribuan pengunjung yang datang turut menggerakkan sektor kuliner, kerajinan, hingga usaha kecil di sekitar Pasar Gede dan Sudiroprajan
Tradisi rebutan gunungan dan pembagian kue keranjang yang menutup acara menjadi simbol keberkahan sekaligus kebersamaan. Namun lebih dari itu, momentum ini juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang memperkuat toleransi sosial.
Pemerintah Kota Surakarta berharap Grebeg Sudiro terus menjadi agenda yang bukan hanya menjaga harmoni, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM dan sektor pariwisata. Dengan semangat kebersamaan, Solo ingin membuktikan bahwa toleransi dan ekonomi kreatif bisa tumbuh berdampingan. [idnnews]