JAKARTA, Radio Bharata Online - Buruknya kualitas udara DKI Jakarta nyatanya tak pandang waktu. Kualitas udara tetap buruk meski pada hari libur sekalipun.
Berdasarkan data dari laman IQAir, platform informasi kualitas udara real-time, disebutkan bahwa Jakarta pada Minggu (13/8) pagi dinobatkan sebagai kota nomor satu paling berpolusi di dunia.
Indeks kualitas udara kota Jakarta Minggu pagi menembus angka 172, dengan polutan utama PM 2,5 serta nilai konsentrasi 96,8 mikrogram per meter kubik.
Dikutip dari situs IQAir, konsentrasi PM 2.5 di Jakarta saat ini sudah 19,4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.
Padahal, pada hari Minggu, nyaris seluruh kegiatan di pusat kota libur. Di sisi lain, ada kegiatan hari bebas kendaraan bermotor atau car free day.
Temuan itu sekaligus mematahkan pernyataan Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, yang menyebut kualitas udara buruk hanya saat hari kerja.
Pada hari Sabtu (12/8), Heru Budi mengatakan, kualitas udara buruk di Ibu Kota layaknya seorang pekerja, bahwa akan libur pada akhir pekan, dan kembali pada hari kerja.
Heru mengatakan, kualitas udara di Jakarta pada hari Sabtu sekitar pukul 15.00 WIB, menduduki peringkat 9 dengan nilai 119. Berselang satu jam, Jakarta berada di urutan ke-27.
Kendati demikian, capaian itu terpatahkan saat kualitas udara kembali memburuk pada hari Minggu (13/8).
Menurut Heru, sektor transportasi penyumbang polusi udara di Ibu Kota, berasal dari kendaraan yang keluar dan masuk Jakarta. Heru mengatakan, transportasi menyumbangkan polusi udara di DKI sekitar 40 persen. Namun, ia mengklaim bahwa udara pada hari Sabtu lalu, lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menambahkan, kondisi udara Jakarta menjadi fluktuatif saat memasuki musim kemarau.
Menurut Asep, polusi Udara pada puncak musim kemarau di Indonesia, diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September. (IQAir)