JAKARTA, Bharata Online  - Untuk mewujudkan transformasi pedesaan menjadi semakin maju, Institut Pertanian Bogor (IPB) University dan Tiongkok Agricultural University (CAU) menjalin kerja sama seputar akademik, riset, dan aksi kolaboratif.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University Prof Sofyan Sjaf mengatakan, "Pola studi yang diterapkan bersifat komparatif, Indonesia paham transformasi desa yang dilakukan Tiongkok dan sebaliknya. Praktiknya, akademisi dari CAU nantinya akan melakukan riset di desa-desa di Indonesia," 

Menurutnya salah satu output konkret dari kerja sama tersebut adalah jurnal ilmiah bersama yang dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan seputar isu pembangunan pedesaan. Adapun tahapan-tahapan implementasi kerja sama, kata dia melanjutkan, sedang berjalan. Sementara itu, lini waktu kegiatan tengah disusun secermat mungkin

"Usai lawatan Presiden CAU kemarin, kami segera bergegas menyusun agenda-agenda teknis, mulai dari perencanaan hingga ke proyeksi output nanti. Tentu saja, harapan kami bersama adalah kerja sama ini berdampak, tidak hanya secara ilmiah tetapi juga pada level kebijakan yang berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat luas," kata Prof Sofyan.

Diketahui, poin kerja sama lainnya yang disepakati antara IPB University dan CAU adalah kemitraan kelembagaan antara FEMA IPB University dan College of Social and Humanities CAU. Pokok kemitraan kedua lembaga difokuskan pada isu transformasi desa di kedua negara.

Prof Sofyan menyampaikan pula bahwa secara garis besar, Indonesia dan Tiongkok memiliki cukup banyak kesamaan sehingga bisa saling belajar, berbagi pengalaman, dan bekerja sama antara satu sama lain.

"Pertama, secara demografis, Tiongkok dan Indonesia memiliki populasi SDM yang melimpah. Kedua, secara tipologi, Indonesia dan Tiongkok memiliki kesamaan sebagai negara dengan karakteristik pedesaan yang kuat. Kesamaan-kesamaan ini membuka peluang untuk saling belajar dan berkolaborasi," ujar dia.

Lalu, Guru Besar Sosiologi Pembangunan Desa IPB University itu juga menekankan ihwal capaian pembangunan pedesaan di Tiongkok yang layak dijadikan rujukan, di antaranya soal keberhasilan pengentasan kemiskinan ekstrem.

"Tiongkokberhasil menyelesaikan kemiskinan ekstrem pada akhir tahun 2020 lalu. Hal tersebut tentu sangat menginspirasi sekaligus sangat relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Di tahun 2026, Pemerintah Indonesia menargetkan kemiskinan ekstrem 0 persen. Tuntas. Kita bisa belajar dari pengalaman keberhasilan Tiongkok tersebut," ujarnya. [Antara]