Guangzhou, Bharata Online - Pertemuan Pejabat Senior pertama Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) tahun 2026 berhasil diselenggarakan di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, dari tanggal 1 hingga 10 Februari 2026, menandai peluncuran resmi "Tahun Tiongkok" APEC.

Sebagai acara besar pertama di tahun penyelenggaraan APEC oleh Tiongkok, pertemuan ini menandai peluncuran penuh kerja sama di berbagai mekanisme APEC, dengan kerja sama di berbagai bidang yang akan dipercepat.

"Selama pertemuan ini, semua pihak melakukan diskusi mendalam seputar tema 'Membangun Komunitas Asia-Pasifik untuk Makmur Bersama' dan tiga prioritas yaitu keterbukaan, inovasi, dan kerja sama, serta mengajukan serangkaian rencana kerja. Pejabat senior dan kepala delegasi dari berbagai negara menyatakan dukungan aktif mereka untuk Tiongkok dalam menyelenggarakan pertemuan tahun ini dan berjanji untuk melakukan upaya bersama guna memastikan hasil yang bermanfaat bagi 'Tahun Tiongkok' APEC," ujar Chen Xu, Ketua Pertemuan Pejabat Senior APEC 2026.

Ini menandai ketiga kalinya Tiongkok menjadi tuan rumah APEC, dan pertama kalinya dalam 12 tahun sejak terakhir kali menjadi tuan rumah. Dalam kurun waktu tersebut, ekonomi anggota APEC telah mempertahankan pertumbuhan yang stabil.

Mewakili hampir 40 persen dari populasi global, mereka menyumbang lebih dari 60 persen dari output ekonomi global dan hampir setengah dari perdagangan global, mendorong pergeseran berkelanjutan pusat gravitasi ekonomi dunia menuju kawasan Asia-Pasifik.

Ekonomi anggota APEC juga telah merangkul era digital. Penetrasi internet di seluruh kawasan telah meningkat dari 52 persen menjadi hampir 90 persen. Industri-industri baru seperti ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan kendaraan energi baru berkembang pesat, semakin memperkuat posisi Asia-Pasifik sebagai pusat global pertumbuhan yang didorong oleh inovasi.

Namun, di tengah meningkatnya ketidakpastian dan transformasi global, kawasan Asia-Pasifik menghadapi tantangan yang semakin besar. Pada titik kritis ini, komunitas internasional memiliki harapan tinggi agar Tiongkok memimpin babak baru kerja sama Asia-Pasifik pada tahun 2026.

"Dunia sedang berada dalam periode perubahan yang sangat cepat, (menjadi) tidak dapat diprediksi. Pesannya sangat jelas bahwa kita perlu membangun kerja sama, kita membutuhkan kemitraan global, kita perlu bertanggung jawab atas generasi penerus kita, kami sangat senang bahwa Tiongkok berupaya (memajukan proses bergabungnya) FTA Asia-Pasifik. Jadi perdagangan sangat penting, perdagangan menghubungkan kita bersama. Jadi kami mendukung Tiongkok dalam perdagangan dan pertumbuhan ekonomi ini," ujar Rujikorn Saengchantr, Pejabat Senior APEC Thailand.

"Proteksionisme dan unilateralisme adalah ancaman, tantangan, bukan hanya bagi AEPC tetapi juga bagi dunia global. APEC menyediakan platform untuk dialog dan untuk perusahaan, saya pikir AEPC menunjukkan pentingnya multilateralisme," kata Ding Guorong, Ketua Komite Ekonomi APEC.