Lhasa, Bharata Online - Kehidupan masyarakat di Daerah Otonomi Tibet, Tiongkok Barat Daya, telah berubah secara dramatis seiring dengan sistem pemanas yang lebih bersih dan nyaman yang telah mengubah rutinitas harian dan membuat musim dingin lebih hangat.
Selama beberapa generasi, masyarakat di Tibet harus berjalan bermil-mil setiap hari untuk mencari kotoran yak guna membantu keluarga mereka melewati musim dingin yang berat.
"Setelah pembebasan Tibet secara damai pada tahun 1951, infrastruktur listrik di wilayah tersebut praktis tidak ada. Hanya ada satu pembangkit listrik tenaga air kecil dengan kapasitas terpasang 92,5 kilowatt. Itu hampir tidak cukup untuk mengisi daya cepat kendaraan listrik saat ini," ujar Zhang Peng, Insinyur Senior Setingkat Profesor dan Wakil Direktur Divisi Ketiga Biro Energi Tibet.
Pada tahun 2023, Tibet meluncurkan inisiatif untuk mempromosikan pemanasan energi bersih, dengan area percontohan yang mencakup keenam kota di wilayah tersebut dan satu prefektur untuk memenuhi kebutuhan pemanasan para petani dan peternak.
"Total kapasitas pembangkit listrik Tibet telah melampaui 10 juta kilowatt, dengan energi bersih menyumbang lebih dari 99 persen dari total pembangkitannya. Energi hijau Tibet tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga disalurkan melalui saluran transmisi tegangan tinggi ke 19 provinsi dan wilayah lain di seluruh Tiongkok. Hal itu telah mengurangi emisi CO2 sekitar 15 juta ton," kata Zhang.
Bagi penduduk setempat, perubahan cara pemanasan berarti mereka dapat menggunakan peralatan rumah tangga hanya dengan menyalakan sakelar.
"Saya suka penanak nasi dan ketel," kata Ge Zhen, seorang penduduk setempat berusia 68 tahun.
"Televisi masih menjadi favorit saya. Anak-anak zaman sekarang tidak lagi mengumpulkan kotoran yak sebanyak dulu," kata Zhase Lama, seorang penduduk setempat berusia 84 tahun.
Saat ini, kotoran yak bukan lagi kebutuhan pokok, melainkan lebih merupakan kenangan budaya. Setelah 75 tahun, kehidupan di wilayah ini telah berubah dari sekadar bertahan hidup menjadi kebebasan memilih.
Pembebasan damai pada 23 Mei 1951 membebaskan Tibet dari agresi imperialis dan kontrol politik serta ekonomi, dan menciptakan kondisi yang diperlukan bagi Tibet untuk maju dan berkembang bersama dengan seluruh Tiongkok. Di bawah kepemimpinan yang kuat dari Partai Komunis Tiongkok, Tibet melaksanakan reformasi demokratis pada tahun 1959 dan menghapuskan sistem perbudakan feodal. Pada tahun 1965, pendirian Daerah Otonom Tibet menandai pergeseran bersejarah dari sistem perbudakan feodal teokratis ke sosialisme yang bercirikan demokrasi rakyat.