JAKARTA, Radio Bharata Online - Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fahmy Radhi mengungkapkan, kebijakan Work From Home (WFH) di hari pertama saat penyelenggaraan KTT ASEAN, langsung berpengaruh signifikan terhadap membaiknya kualitas udara di Jakarta. Sebanyak 75 persen ASN di Jakarta melakukan WFH dari tanggal 4 sampai 7 September 2023, ditambah rekayasa lalu lintas oleh petugas.

Fahmi mengatakan, pengurangan kendaraan bermotor akibat WFH saat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN, membuat udara Jakarta langsung lebih bersih.

Dalam pantauannya pada 4 September siang, indeks kualitas udara menjadi kategori sedang dengan level 99, padahal sebelumnya menyentuh level 157 dengan kategori tidak sehat.

Menurut Fahmi, banyak yang menyebutkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai sumber polusi di Jakarta, namun hal itu menjadi tidak terbukti.

Dalam keterangan tertulisnya Senin siang, pengamat dari UGM itu mengatakan, sebagian pembangkit PLTU Suralaya sudah dipadamkan sebesar 1.600 Mega Watt sejak 29 Agustus, tetapi dalam sepekan belakangan tidak ada pengaruhnya terhadap kualitas udara di Jakarta.

Jadi hal tersebut menurut Fahmi, sudah sesuai dengan penyataan pemerintah, bahwa penyumbang polutan tertinggi di Jakarta adalah sektor transportasi.

Sesuai dengan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sektor transportasi menyumbang lebih dari 42 persen polutan di Jakarta. Selanjutnya, disusul sektor industri dan manufaktur.

Fahmi menambahkan, pada sektor manufaktur masih banyak pabrik milik swasta yang beroperasi di Jakarta dan sekitarnya, yang menghasilkan emisi gas buang saat beroperasi.  Dan rata-rata mereka tidak mempunyai alat khusus untuk menyerap debu emisi yang dihasilkan. (Antara)