BEIJING, Radio Bharata Online - Menjelang hari libur May Day, warganet Tiongkok kesal dengan pengaturan unik negara tersebut terhadap hari libur nasional, yang biasanya memperbolehkan orang untuk mendapat libur beberapa hari berturut-turut, namun kemudian mengharuskan mereka bekerja pada akhir pekan, sebelum atau sesudah hari libur.
Beberapa pengamat mendesak pencabutan kebijakan penyesuaian hari kerja, sekaligus menyerukan negara untuk memanusiakan kebijakan hari libur resmi. Mereka mengatakan, lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat, dapat lebih mendorong perekonomian dan konsumsi.
Bagi netizen Tiongkok, sudah menjadi hal yang biasa pada setiap hari libur nasional, untuk menyuarakan kekesalan mereka terhadap pengaturan tersebut.
Sesuai aturan di atas kertas, masyarakat sepertinya akan diberi libur lima hari pada hari libur May Day mendatang. Namun jika dihitung dengan adanya tambahan hari kerja, maka sebenarnya hanya ada satu hari libur.
The Paper melaporkan pada hari Selasa, banyak netizen yang mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan liburan dan akhir pekan yang normal. Lebih lanjut, beberapa netizen mengungkapkan harapannya agar liburan lebih panjang tanpa perlu penyesuaian.
Untuk diketahui, Tiongkok memiliki hari libur nasional berjumlah 11 hari, setara dengan sebagian besar negara Eropa dan Amerika. Namun, jika memperhitungkan cuti berbayar bagi karyawan, jumlah total hari libur bagi pekerja Tiongkok sepanjang tahun, lebih sedikit dibandingkan sebagian besar negara secara global.
Zhang Yiwu, seorang profesor di Universitas Peking, yang juga merupakan penasihat politik nasional, mengatakan kepada Global Times pada hari Selasa, bahwa sistem liburan saat ini tidak mengurangi jumlah hari libur, namun meningkat selama bertahun-tahun. Misalnya libur Festival Musim Semi lebih lama dari biasanya.
Selanjutnya Cheng Chaogong, kepala peneliti di Tongcheng Re Search Institute, menyarankan agar hari libur yang sebelumnya tidak diperhatikan, dapat mulai dipertimbangkan, dan hari libur tertentu dapat ditambahkan untuk periode puncak konsumsi perjalanan, seperti libur musim panas. (Global Times)