BADUNG, Radio Bharata Online - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeklaim Indonesia selektif ihwal impor. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga seusai menghadiri acara "The Sixth ASEAN Inclusive Business Summit" di The Mulia Hotels & Resorts, Nusa Dua, Badung hari Rabu mengatakan, yang diprioritaskan adalah barang-barang atau bahan baku yang diolah di dalam negeri, yang kemudian diekspor di luar negeri. Menurut Jerry, hal tersebut bisa memberikan nilai tambah. Namun apabila Indonesia tidak bisa memproduksi di dalam negeri, impor menjadi konsekuensi yang logis.
Ia mengimbau untuk tidak sembarang impor barang-barang konsumsi atau yang tidak bisa diproduksi dalam negeri.
Dikatakan, dari bahan baku yang diimpor tersebut, harus dipastikan bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai untuk kemudian diekspor kembali, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan kepada neraca perdagangan.
Jerry mengaku neraca perdagangan Indonesia surplus selama 38 bulan berturut-turut, yang berarti ekspor lebih besar daripada impor.
Misalnya, per Juni 2023, nilai ekspor Indonesia mencapai hampir USD20 miliar atau Rp 306 triliun. Angka itu berdasarkan data yang diterima dari Badan Pusat Statistik (BPS). Bahkan Jerry mengatakan, pada tahun 2022 nilai ekspor Indonesia mencapai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia berdiri, yakni USD 54,46 miliar (Rp 833 triliun). (Kemendag)