JAKARTA, Radio Bharata Online  - El Nino yang puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus-September 2023, dapat membuat Indonesia terancam kekeringan akibat cuaca ekstrem . Hal ini dikhawatirkan bisa mengancam ketahanan pangan hingga ketersediaan air bersih yang ada.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan mitigasi dampak El Nino sudah dilakukan sejak tahun lalu. Oleh karena itu, dari sisi stok pangan utama Indonesia dipastikan aman sampai akhir 2023.

Terkait dengan stok pangan sampai akhir 2023 nanti, Arief Prasetyo menuturkan, stok pangan komoditas strategis Indonesia aman. Mengenai beras, Bapanas sudah menugaskan Bulog untuk menyerap beras petani 2,24 juta ton. Sumber beras tersebut diutamakan agar diproduksi di dalam negeri.

"Kalau kita melakukan importasi itu memang harus dilakukan, kita lakukan karena dengan kita memiliki stok akan berbeda, kita lebih pede dalam melindungi masyarakat Indonesia yang banyak ini," ucapnya.

Arief juga mengklaim cadangan pangan Indonesia terus meningkat. Cadangan aneka daging juga dipastikan aman karena pihaknya memperpanjang umur simpan dengan menggunakan cold storage.

Meski begitu, Arief mengakui ada beberapa pasokan produk hortikultura yang harus dicadangkan lebih banyak lagi untuk menghadapi ancaman El Nino, seperti cabai. 

Selain Bapanas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jugamemprediksi akan ada kekeringan cukup signifikan di sejumlah daerah imbas El Nino. Pihaknya meminta masyarakat mulai hemat penggunaan air bersih.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut permasalahan El Nino bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah daerah yang harus menangani, khususnya pencegahan. Saat ini disebut sudah mulai banyak desa yang mengamankan sumber-sumber air untuk masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab juga mengimbau agar masyarakat menghemat penggunaan air bersih. Menurut Fachri, jika hari tanpa hujan (HTH) terjadi selama lebih dari 60 hari berturut-turut maka sudah dapat dikategorikan dalam cuaca ekstrem. Hal itu sudah terjadi di beberapa daerah seperti di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).  Ia menghimbau untuk daerah-daerah yang masih ada potensi hujan, untuk menggiatkan  menabung air, 
Detikcom