JAKARTA, Radio Bharata Online - Pemerintah telah memutuskan impor kereta bekas dari Jepang tak jadi dilakukan. Sebagai gantinya, PT KAI Commuter (KCI) akan menggunakan skema retrofit dan pengadaan KRL baru dalam memenuhi kebutuhan operasional hingga lima tahun ke depan.
Keputusan ini diambil setelah KCI melaksanakan Rapat Koordinasi terkait kebutuhan sarana KRL lima tahun ke depan dapat dipenuhi dengan memenuhi regulasi yang saat ini berlaku. Rapat ini melibatkan Kemenko Marves, Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, BPKP, DJKA, PT KAI dan juga PT INKA yang dipimpin langsung oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.
Melalui rapat itu, KCI bersama para stakeholders memutuskan bagaimana pemenuhan kebutuhan sarana KRL dilakukan melalui skema retrofit untuk replacement sarana yang ada dalam lima tahun ke depan, juga pengadaan sarana KRL baru untuk replacement dan penambahan kapasitas.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Anne Purba, mengatakan saat ini PT KAI Commuter sendiri telah menjalin kontrak dengan PT INKA untuk pengadaan 16 trainset sarana KRL baru dalam rangka penambahan kapasitas yang akan dikirimkan secara bertahap pada tahun 2025-2026.
Sementara untuk replacement dengan adanya rencana konservasi dilakukan dengan mendatangkan sarana KRL baru di tahun 2024 sebanyak 3 trainset lewat impor, retrofit 19 sarana KRL yang dimulai tahun ini, dan mendatangkan 8 sarana KRL baru pada tahun 2027.
Dalam proses seluruh pengadaan sarana KRL tersebut, selain pendanaan dari PT KAI dan KAI Commuter, juga ada opsi dukungan Pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Tentunya ini sangat penting untuk peningkatan pelayanan kepada pengguna ke depannya dan dukungan terhadap produksi sarana KRL dalam negeri.
Detikcom