JAKARTA, Radio Bharata online - Untuk menjawab tantangan Industri pertambangan minyak dan gas hingga panas bumi  seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi nasional, serta masalah luasnya geografi Indonesia baik darat maupun lautnya. Maka dibutuhkan infrastruktur pendukung yang bukan hanya efisien tapi juga tahan lama dan juga bisa diandalkan secara jangka panjang sekaligus memberikan dampak nilai tambah bagi industri dalam negeri.

Untuk itu Indonesia kini memiliki pabrik produksi pipa mutakhir yang bisa memaksimalkan potensi produksi hingga distribusi beragam produk tambang cair maupun gas. Itu setidaknya bisa dilihat dari keberadaan pabrik pipa bimetal dengan kapasitas produksi terbesar kedua di dunia yang berlokasi di Batam, Kepulauan Riau.

Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 20.000 meter persegi ini memproduksi sekaligus memasok pipa Corrosion Resistant Alloy (CRA) dengan tipe MLP dan Weld Overlay yang diaplikasikan khusus untuk fasilitas industri minyak, gas, bumi, dan energi.

Pipa CRA sendiri merupakan pipa dengan bahan gabungan metal yang tahan karat. Daya tahan pipa metal ini sangat vital untuk sumur gas atau sumur minyak yang dikategorikan sebagai sour (asam) karena terdapat impurities di sana (biasanya H2S, sulfur, CO2). Terutama di Indonesia, cukup banyak jenis minyak yang asam karena kondisi vulkanis, sama seperti di Timur Tengah.

Seperti diketahui Ada dua jenis tipe CRA yang dipakai yaitu Metallurgically bonded CRA (weld overlay) dan mechanically bonded (MLP - mechanical lined pipe). 
Untuk weld overlay pipa yang digunakan adalah carbon steel, akan tetapi di dalamnya dilapisi dengan CRA material seperti Stainless Steel 316L, Alloy 825 atau Alloy 625--ketebalan CRA dibuat sesuai dengan level korosivitasnya.  Weld overlay, tidak hanya dapat diaplikasikan melapisi bagian dalam pipa, tapi juga digunakan untuk melapisi semua bagian dalam sistem pipeline (fittings, flanges dan valves). Dengan demikian, dari segi biaya maupun efektivitasnya menjadi optimal.

CEO Cladtek Group, Lee Wilson mengatakan, pipa mutakhir antikarat ini sudah teruji sesuai dengan standar global dan telah banyak dipakai di proyek-proyek besar pengeboran minyak dan gas di berbagai negara di dunia. Sehingga tak heran kalau 95% produk yang dihasilkannya berhasil diserap di pasar internasional.
Lee dalam keterangannya Jumat (18/6). menyebut, "Merasa bangga telah berhasil mentransfer teknologi, sumber daya manusia, dan keahlian Indonesia ke operasi pabrik kami, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga Brasil dan Arab Saudi," 
 

Bila dibandingkan dengan produk pipa baja konvesnional, diakui Lee, pipa baja dengan komposisi bimetal memiliki masa pakai yang jauh lebih lama. Bila pipa konvesnional hanya berusia maksimal 5 tahun, pipa bimetal yang diproduksi dengan teknologi MLP ini bisa berumur hingga 25 tahun lebih. 
Bagi pelaku industri, hal ini terbilang efisien karena tak perlu mengeluarkan biaya 'bongkar' bongkar pasang terlalu sering juga terhindar dari risiko gangguan operasi di tengah jalan. Ini artinya biaya perawatan yang dibutuhkan bisa lebih hemat.

Lee menambahkan, meski bukan satu-satunya di dunia, namun di Indonesia tak ada perusahaan manufaktur lain yang memproduksi pipa mutakhir antikarat seperti yang diproduksi pihaknya. Menariknya, untuk memproduksi pipa mutakhir tersebut, Cladtek rupanya menggunakan lebih dari 50% materialnya dari dalam negeri. Begitu pula dengan tenaga kerja yang dilibatkan. (Detikcom)