Beijing, Radio Bharata Online - Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pada konfernsi pers hari Senin (24/7) di Beijing mengatakan Tiongkok dan Jepang mengadakan konsultasi kerja yang jujur dan mendalam pada hari Sabtu (22/7) lalu untuk bertukar pandangan mengenai isu-isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama dan sepakat untuk melanjutkan mekanisme konsultasi tersebut.
"Seperti yang Anda katakan, pada 22 Juli, Sabtu lalu, Liu Jinsong, Direktur Jenderal Departemen Urusan Asia Kementerian Luar Negeri Tiongkok, mengadakan konsultasi kerja putaran ketiga tahun ini dengan Takehiro Funakoshi, Direktur Jenderal Urusan Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri Jepang di Tokyo. Konsultasi ini berlangsung secara terbuka dan mendalam, dengan kedua belah pihak memiliki perbedaan pendapat dan juga kesamaan pandangan," ujar Mao.
Ia mengatakan pihak Tiongkok menyatakan posisi yang serius dan penentangan yang tegas terhadap Jepang yang secara agresif mendorong pembuangan air yang terkontaminasi nuklir Fukushima ke lautan, dan mendesak Jepang untuk tidak bertindak secara tergesa-gesa dan sengaja.
"Kedua belah pihak percaya bahwa pada kesempatan ulang tahun ke-45 penandatanganan Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan Tiongkok-Jepang, mereka harus mempertahankan kontak di semua tingkatan, dan memperkuat kerja sama pragmatis dan pertukaran antar masyarakat. Kedua belah pihak juga bertukar pandangan tentang isu-isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama dan sepakat untuk melanjutkan mekanisme konsultatif ini," jelas Mao.
Pada tahun 2011, tiga reaktor dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi di Jepang meleleh setelah gempa bumi dan tsunami. Sekitar 1,25 juta ton air limbah yang terkontaminasi nuklir telah terakumulasi di PLTN tersebut, termasuk air untuk mendinginkan reaktor, air tanah, dan air hujan, dan jumlah air tersebut masih terus meningkat.
Tanpa menghiraukan pertanyaan dan kritik dari dalam dan luar negeri, pemerintah Jepang memutuskan pada bulan April 2021 untuk menyaring dan mengencerkan air yang terkontaminasi nuklir dari PLTN Fukushima dan membuangnya ke laut mulai tahun 2023. Proses ini diperkirakan akan berlangsung selama 20 hingga 30 tahun, hingga pembangkit listrik tenaga nuklir dihentikan.