Bharata Online - Arus mudik Festival Musim Semi 2026 di Tiongkok dengan estimasi 9,5 miliar perjalanan bukan sekadar angka statistik yang mengagumkan, melainkan potret utuh tentang bagaimana sebuah negara berpenduduk terbesar kedua di dunia mampu mengelola mobilitas manusia, kohesi sosial, modernisasi teknologi, dan legitimasi negara secara bersamaan dalam satu momentum nasional.
Di tengah narasi global yang kerap menggambarkan Tiongkok sebagai negara yang sedang melambat, menua, atau mengalami krisis struktural, realitas chunyun justru memperlihatkan gambaran yang jauh lebih kompleks, mengenai sebuah sistem negara yang bekerja, hadir, dan mampu mengorganisasi masyarakat dalam skala yang bahkan sulit dibayangkan oleh banyak negara maju Barat.
Jika kita melihat dari perspektif ekonomi politik dan teori kapasitas negara (state capacity), lonjakan mobilitas hingga 9,5 miliar perjalanan selama 40 hari mencerminkan kekuatan infrastruktur fisik dan administratif Tiongkok. Negara tidak hanya membangun jalan tol, rel kereta cepat, bandara, dan jaringan logistik, tetapi juga memiliki kemampuan koordinasi lintas sektor yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) transportasi, hingga sektor swasta.
Fakta bahwa 80 persen perjalanan dilakukan dengan kendaraan pribadi menunjukkan dua hal penting sekaligus, yaitu meningkatnya daya beli masyarakat dan meluasnya jaringan jalan nasional yang mampu menampung lonjakan ekstrem tanpa lumpuh total. Di banyak negara Barat, lonjakan mobilitas musiman sering kali justru memicu kekacauan bandara, pemogokan, dan krisis layanan publik, sesuatu yang relatif berhasil ditekan di Tiongkok melalui perencanaan jangka panjang dan kontrol negara yang kuat.
Dari sudut pandang teori pembangunan dan modernisasi non-Barat, kereta api nasional yang diproyeksikan melayani 540 juta penumpang dan penerbangan sipil 95 juta penumpang selama periode ini memperlihatkan bahwa Tiongkok tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga pemerataan akses. Peningkatan kapasitas kereta hingga 5,3 persen dan jaminan rata-rata hampir 19.400 penerbangan per hari menunjukkan investasi berkelanjutan dalam sektor publik strategis.
Ini menegaskan model pembangunan Tiongkok yang menempatkan infrastruktur sebagai tulang punggung stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi, berbeda dengan model neoliberal Barat yang cenderung menyerahkan transportasi publik pada mekanisme pasar dengan hasil yang sering timpang dan mahal bagi masyarakat.
Namun Festival Musim Semi bukan hanya soal mobilitas fisik, melainkan juga mobilitas simbolik dan kultural. Gala Festival Musim Semi atau Chunwan, yang diakui Guinness World Records sebagai program televisi paling banyak ditonton di dunia, adalah instrumen soft power domestik dan internasional yang sangat efektif.
Dalam perspektif hubungan internasional, ini adalah contoh nyata bagaimana budaya dan teknologi digabungkan untuk membangun legitimasi dan daya tarik nasional. Ketika Barat sering berbicara tentang soft power melalui Hollywood atau industri hiburan komersial, Tiongkok menampilkan model berbeda melalui budaya nasional yang diproduksi negara, tetapi dikemas dengan teknologi mutakhir dan partisipasi masyarakat luas.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI), produksi 8K berbasis peralatan dalam negeri, Media GPT 2.0, AIGC, teknologi Audio Vivid 3D, hingga siaran inklusif dengan bahasa isyarat dan subtitle AI menunjukkan bahwa inovasi teknologi Tiongkok bukan lagi sekadar meniru Barat, melainkan menciptakan ekosistemnya sendiri.
Ini sejalan dengan teori kemandirian teknologi dan techno-nationalism, di mana penguasaan teknologi strategis menjadi bagian dari kedaulatan nasional. Fakta bahwa seluruh rantai produksi 8K menggunakan peralatan domestik adalah sinyal kuat bahwa Tiongkok telah melampaui fase ketergantungan teknologi impor, sebuah capaian yang selama puluhan tahun dianggap mustahil oleh banyak analis Barat.
Pemilihan sub-venue di Harbin, Yiwu, Hefei, dan Yibin juga memperlihatkan kecerdasan geopolitik internal Tiongkok. Ini bukan keputusan estetika semata, melainkan strategi integrasi wilayah dan narasi pembangunan nasional.
Harbin menampilkan kombinasi budaya utara dan ekonomi es-salju yang kini menjadi daya tarik global, Yiwu merepresentasikan jantung perdagangan dunia dan integrasi Tiongkok dalam rantai pasok global, Hefei menunjukkan transformasi kota non-pesisir menjadi pusat sains dan teknologi, sementara Yibin merefleksikan harmoni antara tradisi, ekologi Sungai Yangtze, dan industri masa depan seperti baterai.
Dalam perspektif pembangunan regional, ini adalah pesan bahwa modernisasi Tiongkok tidak terpusat di satu atau dua kota global saja, melainkan menyebar secara terencana.
Partisipasi petani, pekerja kantin universitas, juara WorldSkills, hingga seniman internasional di panggung gala memperlihatkan model inklusivitas yang khas Tiongkok. Negara hadir bukan hanya untuk elite atau selebritas, tetapi juga mengangkat martabat kerja sehari-hari sebagai bagian dari narasi nasional.
Ini sejalan dengan konsep “people-centered development” yang sering dikritik Barat sebagai jargon, tetapi dalam praktiknya justru terlihat nyata dalam perayaan ini. Bahkan dari perspektif sosiologi politik, ini membantu memperkuat kontrak sosial antara negara dan rakyat seperti stabilitas, kesejahteraan, dan identitas bersama ditukar dengan kepercayaan dan dukungan publik.
Secara internasional, siaran gala ke lebih dari 200 negara dan wilayah melalui China Global Television Network (CGTN) dan ribuan media asing memperlihatkan kepercayaan diri Tiongkok dalam menampilkan dirinya apa adanya, bukan sebagai negara yang terus-menerus defensif terhadap kritik Barat.
Ini adalah soft power berbasis keunikan peradaban, bukan imitasi nilai liberal Barat. Dalam dunia yang semakin multipolar, strategi ini justru semakin relevan karena banyak negara berkembang melihat Tiongkok sebagai alternatif model modernisasi yang tidak harus identik dengan Westernisasi ala Barat.
Pada akhirnya, Festival Musim Semi 2026 memperlihatkan satu hal mendasar yang sering luput dalam debat global tentang Tiongkok bahwasanya negara ini bukan hanya mesin ekonomi atau aktor geopolitik, tetapi sebuah peradaban modern yang mampu mengelola tradisi, teknologi, mobilitas, dan identitas nasional dalam satu tarikan napas.
Di saat banyak negara Barat menghadapi fragmentasi sosial, krisis infrastruktur, dan polarisasi budaya, Tiongkok justru menunjukkan kemampuan negara yang kuat untuk mengorganisasi skala besar tanpa kehilangan sentuhan budaya dan inklusivitas sosial. Inilah alasan mengapa, terlepas dari segala kritik ideologis, model Tiongkok terus menjadi rujukan, dipelajari, dan diam-diam dikagumi oleh banyak negara di dunia hari ini.