New York, Bharata Online - Utusan Tiongkok untuk PBB pada hari Kamis (9/4) mendesak semua pihak untuk menyelesaikan masalah Kosovo melalui dialog yang tulus, dan menekankan bahwa kedaulatan dan integritas teritorial Serbia harus dihormati.

Sun Lei, Wakil Perwakilan Tetap Tiongkok untuk PBB, menyampaikan pernyataan tersebut pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, dengan Peter Due, Perwakilan Khusus dan Kepala Misi Administrasi Sementara PBB di Kosovo (UNMIK), memberikan penjelasan kepada dewan tentang situasi di Kosovo.

Masalah Kosovo tetap berakar kuat pada warisan kampanye pengeboman NATO tahun 1999, yang berlangsung selama 78 hari dan menyebabkan ribuan warga sipil tewas atau terluka. Dua puluh tujuh tahun kemudian, penduduk masih bergulat dengan ketidakstabilan ekonomi dan masalah kesehatan. Sementara itu, Serbia dan Albania tetap terasing, meninggalkan perpecahan yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari.

Sun menekankan bahwa masalah Kosovo berdampak pada perdamaian dan stabilitas Balkan dan seluruh Eropa, dan koeksistensi harmonis berbagai kelompok etnis di Kosovo serta solusi politik awal untuk masalah Kosovo adalah kepentingan bersama semua pihak.

"Posisi Tiongkok mengenai isu Kosovo konsisten dan jelas. Kami mendukung pihak-pihak terkait dalam menemukan solusi politik yang saling diterima melalui dialog yang tulus dalam kerangka Resolusi Dewan Keamanan PBB 1244. Dalam proses ini, kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas teritorial Serbia harus sepenuhnya dihormati," ujar Sun.

Sun menekankan bahwa dialog dan konsultasi adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan isu Kosovo, koeksistensi harmonis berbagai kelompok etnis adalah prasyarat dasar untuk stabilitas di Kosovo, dan kehadiran PBB merupakan jaminan kuat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Mencatat bahwa PBB dan Dewan Keamanan harus terus memantau situasi di Kosovo, Sun mendesak otoritas Kosovo untuk memastikan keselamatan personel dan fasilitas UNMIK serta memberikan fasilitas untuk operasi mereka.

Pada tahun 2008, Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan, yang diakui oleh beberapa negara Barat termasuk Amerika Serikat, tetapi Serbia masih menganggapnya sebagai bagian dari wilayahnya. Ketegangan meningkat sejak saat itu, dengan pasukan NATO bentrok dengan demonstran Serbia di Zvecan pada Mei 2023, melukai puluhan orang, dan insiden September 2023 yang menewaskan seorang petugas polisi Kosovo dan empat warga Serbia.