Beijing, Bharata Online - Para pakar Tiongkok telah memperingatkan bahwa dorongan agresif Amerika Serikat untuk mengakuisisi Greenland, wilayah otonom Denmark, telah menimbulkan kerusakan permanen pada hubungan AS-Eropa, berpotensi mengikis Organisasi Pakta Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan mempercepat upaya Eropa untuk membangun kemampuan pertahanan independen.

Sejak NATO didirikan pada tahun 1949, posisi Komandan Tertinggi Sekutu Eropa secara konsisten dipegang oleh seorang perwira militer AS. Sistem pertahanan NATO tetap sangat bergantung pada Amerika Serikat dalam hal kekuatan udara, intelijen, struktur komando, dan perencanaan strategis.

"Krisis di Greenland telah menyebabkan kerusakan permanen pada hubungan Eropa-AS. Oleh karena itu, saya percaya bahwa di masa depan, NATO mungkin akan semakin terkikis, melemah, atau bahkan menjadi tidak efektif. Eropa mungkin akan mengejar integrasi pertahanan sendiri di bawah kerangka NATO, meskipun NATO hanya ada dalam nama saja. Atau, Eropa dapat meninggalkan NATO, menempuh jalannya sendiri dan membangun sistem pertahanan independen," ujar Feng Zhongping, Direktur Institut Studi Eropa di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok.

Menggemakan sentimen tersebut, Cui Hongjian, Direktur Pusat Studi Uni Eropa dan Pembangunan Regional di Universitas Studi Asing Beijing, menyoroti kesadaran Eropa akan motif tersembunyi AS.

"Hanya setelah Eropa sendiri menjadi korban, barulah ia menyadari bahwa sekutu yang telah lama diandalkan dan dipercayanya itu tidak pernah melepaskan sifat imperialis dan hegemoniknya yang melekat. Di mata pemikiran hegemonik Amerika, siapa pun yang menghalangi, bahkan Eropa sendiri, akan menghadapi moncong senjata dan ujung pedang, asalkan Amerika Serikat dapat memperoleh manfaat maksimal dengan biaya minimal," kata Cui.

Dihadapkan dengan ancaman AS atas Greenland dan perubahan nyata dalam hubungan transatlantik, Eropa telah menyadari kelemahan ketergantungan keamanannya pada Amerika Serikat, dengan seruan untuk otonomi strategis yang semakin lantang.

Banyak yang berpendapat bahwa Uni Eropa (UE) harus membangun sistem pertahanan dan keamanan yang independen, dengan mantap menguasai teknologi inti dan jalur energi vital yang mendorong pembangunan ekonomi, untuk benar-benar membebaskan diri dari kesulitan yang dialaminya karena dibatasi oleh pihak lain.

"Bagi Eropa, jika gagal membangun otonomi keamanan dan pertahanan, Eropa akan tetap dibatasi oleh Amerika Serikat di masa depan, baik dalam hal Greenland maupun isu-isu lain yang menyangkut kepentingannya. Dari perspektif AS, keamanan tetap menjadi titik lemah Eropa, dan dengan demikian AS akan tanpa henti mengeksploitasi kerentanan Eropa untuk menekan sekutunya dan menindas Eropa," ujar Cui.

Terletak di timur laut Amerika Utara, Greenland, pulau terbesar di dunia, adalah wilayah yang berpemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Denmark, sementara Kopenhagen mempertahankan otoritas atas pertahanan dan kebijakan luar negeri. Amerika Serikat mempertahankan pangkalan militer di pulau tersebut.