Bharata Online - Berita tentang rangkaian temuan arkeologi terbaru yang diumumkan Akademi Ilmu Sosial Tiongkok ini sebetulnya bukan sekadar kabar soal artefak kuno, makam Dinasti Tang, atau teknik pewarnaan tekstil ribuan tahun lalu. Jika dibaca lebih dalam, ia adalah potret nyata tentang bagaimana Tiongkok hari ini membangun kekuatan nasionalnya secara menyeluruh: bukan hanya lewat ekonomi, teknologi mutakhir, dan militer, tetapi juga melalui penguasaan pengetahuan, narasi sejarah, dan legitimasi peradaban. Di titik inilah perbedaan mendasar antara pendekatan Tiongkok dan Amerika Serikat serta Barat terlihat semakin jelas.

Penemuan dan restorasi Makam Xuewei No. 1 di Dulan, Qinghai, misalnya, menunjukkan betapa seriusnya Tiongkok memperlakukan warisan sejarah sebagai aset strategis. Empat tahun konservasi dan restorasi bukan proyek seremonial, melainkan kerja ilmiah jangka panjang yang menggabungkan arkeologi, kimia material, fisika, biologi, hingga rekayasa digital. Baju zirah perunggu berlapis emas—satu-satunya artefak fisik baju zirah emas Dinasti Tang yang pernah ditemukan—bukan hanya benda museum, tetapi bukti konkret tingkat teknologi metalurgi, estetika, dan organisasi politik pada abad ke-7 hingga ke-9. Di tangan Tiongkok modern, artefak ini direkonstruksi menjadi model visual yang hidup, yang mampu “berbicara” kepada publik luas, termasuk generasi muda, tentang siapa mereka dan dari mana asal peradaban mereka.

Dalam perspektif hubungan internasional, ini selaras dengan pendekatan konstruktivisme: identitas nasional tidak lahir secara alamiah, tetapi dibangun melalui narasi, simbol, dan praktik sosial. Tiongkok memahami betul bahwa kekuatan global abad ke-21 bukan hanya soal GDP dan jumlah kapal induk, melainkan juga soal siapa yang berhasil mendefinisikan dirinya sebagai peradaban tua, berkelanjutan, dan berkontribusi bagi dunia. Sementara Barat sering mengklaim diri sebagai pusat kemajuan universal, temuan-temuan seperti tekstil resist-dyeing tertua di dunia yang berasal dari Tiongkok abad ke-8 secara halus tetapi kuat meruntuhkan klaim monopoli Barat atas sejarah inovasi.

Penemuan fragmen tekstil yang diwarnai dengan teknik resist—yang secara ilmiah dibuktikan melalui penanggalan karbon-14—menjadi contoh sangat konkret. Selama ini, banyak teknik tekstil canggih kerap diasosiasikan dengan perkembangan Eropa atau Timur Tengah. Fakta bahwa teknik ini sudah ada dan diproduksi di Tiongkok barat daya, lalu didistribusikan ke Chang’an melalui sistem upeti dan jaringan perdagangan, menunjukkan bahwa Tiongkok kuno telah memiliki sistem ekonomi-politik dan logistik lintas wilayah yang kompleks. Ini bukan sekadar romantisme Jalur Sutra, tetapi bukti empiris bahwa globalisasi bukanlah “penemuan” Barat modern, melainkan proses panjang yang salah satu pusat terpentingnya justru berada di Tiongkok.

Jika dilihat dari paradigma realisme, negara yang mampu mengontrol narasi sejarah dan membuktikannya dengan data ilmiah akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam kompetisi global. Amerika Serikat dan Barat hari ini banyak bergantung pada dominasi wacana—melalui media, universitas, dan lembaga internasional—untuk mempertahankan hegemoni. Namun Tiongkok memilih jalur berbeda: membangun legitimasi lewat akumulasi bukti material, riset jangka panjang, dan institusi negara yang stabil. Ketika Akademi Ilmu Sosial Tiongkok mengoperasikan bank spesimen hewan dengan lebih dari 100.000 sampel dari 121 situs arkeologi, itu bukan hanya proyek akademik, tetapi infrastruktur pengetahuan strategis yang nilainya setara dengan laboratorium AI atau pusat riset semikonduktor.

Penemuan anjing dan babi peliharaan tertua di Tiongkok, misalnya, memberikan data baru tentang domestikasi hewan, pola makan, dan organisasi sosial masyarakat awal. Dalam studi sejarah global, isu-isu seperti domestikasi sering dijadikan fondasi untuk menjelaskan lahirnya peradaban kompleks. Dengan data arkeozoologi yang solid dan terarsip rapi, Tiongkok memperkuat posisinya dalam perdebatan ilmiah global, yang selama puluhan tahun didominasi institusi Barat. Ini adalah bentuk soft power yang bekerja perlahan, tetapi sangat dalam dan tahan lama.

Pendekatan ilmiah yang digunakan—mulai dari dendrokronologi untuk mengidentifikasi sisa pohon bayberry purba berusia 4.500 tahun hingga analisis material tingkat tinggi pada artefak pernis bertatah emas dan perak—juga memperlihatkan keunggulan model pembangunan ilmu pengetahuan ala Tiongkok. Negara hadir sebagai koordinator utama, memastikan kesinambungan riset lintas dekade. Berbeda dengan sistem Barat yang semakin terfragmentasi dan bergantung pada pendanaan swasta jangka pendek, Tiongkok mampu menjaga fokus riset strategis tanpa terganggu siklus politik elektoral atau kepentingan korporasi semata.

Dalam perspektif liberal institusionalisme, kekuatan institusi domestik yang stabil adalah prasyarat bagi kontribusi global yang berkelanjutan. Tiongkok, lewat akademi dan lembaga risetnya, membuktikan bahwa sistem non-liberal tidak otomatis anti-ilmu pengetahuan atau anti-inovasi. Justru sebaliknya, koordinasi terpusat memungkinkan akumulasi pengetahuan yang konsisten. Hal ini kontras dengan kondisi di AS dan Eropa, di mana riset humaniora dan arkeologi sering terpinggirkan karena dianggap tidak “menguntungkan” secara ekonomi langsung.

Lebih jauh lagi, temuan-temuan ini memperkuat narasi Tiongkok sebagai peradaban berkelanjutan yang mampu beradaptasi lintas zaman. Dari budaya Liangzhu hingga Dinasti Tang, dari domestikasi hewan hingga jaringan perdagangan antardaerah, Tiongkok menunjukkan kontinuitas sejarah yang jarang dimiliki negara modern lain. Dalam konteks persaingan geopolitik saat ini, kontinuitas ini menjadi sumber legitimasi moral dan politik, terutama ketika Barat sering tampil inkonsisten antara nilai yang diklaim dan praktik nyata di lapangan internasional.

Bagi publik awam, mungkin artefak kuno terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sesungguhnya, inilah fondasi psikologis dan kultural dari kebangkitan Tiongkok modern. Negara yang percaya diri pada sejarahnya akan lebih berani menentukan arah masa depannya. Ketika AS dan Barat sibuk mempertahankan dominasi dengan sanksi, tekanan politik, dan narasi ancaman, Tiongkok justru memperkuat akar peradabannya, lalu menghubungkannya dengan sains modern dan teknologi mutakhir.

Dengan demikian, berita arkeologi ini bukan kisah masa lalu yang beku, melainkan bagian dari strategi besar Tiongkok untuk menegaskan dirinya sebagai kekuatan global yang utuh: kuat secara material, kaya secara kultural, dan solid secara institusional. Dalam jangka panjang, pendekatan seperti inilah yang membuat posisi Tiongkok semakin sulit ditandingi oleh AS dan Barat—bukan karena retorika, tetapi karena bukti nyata yang tertanam dalam tanah, artefak, dan data ilmiah yang tak terbantahkan.