DAVOS, Bharata Online - Pada Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-56, kecerdasan buatan (AI) melampaui perannya sebagai sekadar tren teknologi untuk mendominasi diskusi, sebagai "sistem super" fundamental, sebuah kekuatan yang secara fundamental, mendefinisikan ulang logika keuangan, energi, real estat, dan tata kelola global itu sendiri.
Dengan latar belakang keterlibatan politik tingkat tinggi, termasuk kunjungan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng dan Presiden AS Donald Trump, forum tersebut mendedikasikan jalur utama untuk mengeksplorasi, bagaimana "menerapkan teknologi inovatif dalam skala besar dan bertanggung jawab."
Diskusi beralih dari sekadar kemampuan, untuk membahas integrasi sistemik AI dan implikasinya yang mendalam terhadap masyarakat.
CEO Microsoft, Satya Nadella, menekankan perlunya menggunakan AI untuk hasil yang bermanfaat, yang menguntungkan masyarakat dan negara, sambil memperingatkan tentang penyebaran global yang tidak merata, karena kesenjangan modal dan infrastruktur.
CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, menganjurkan standar keselamatan internasional, menyatakan kekhawatiran bahwa persaingan geopolitik dan korporasi mempercepat perkembangan.
Di tengah perdebatan global ini, Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng, dalam pidato khususnya, memposisikan Tiongkok sebagai mitra untuk pertumbuhan kolaboratif.
He mengatakan, perkembangan Tiongkok adalah peluang, bukan ancaman, dan menawarkan pasarnya untuk berbagi peluang.
Ia menegaskan kembali komitmen Tiongkok untuk memperluas keterbukaan, menciptakan lapangan bermain yang setara, dan selaras dengan standar internasional yang tinggi.
Dialog AI di Davos, mengkristalkan konsensus global tentang potensi super-sistem AI, dan kebutuhan paralel akan kerangka kerja, yang memastikan pengembangannya aman, adil, dan pada akhirnya bermanfaat bagi umat manusia. (CGTN)