BEIJING, Radio Bharata Online - Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida telah membuka Kotak Pandora, dengan memutuskan untuk mulai membuang air limbah nuklir Fukushima ke laut mulai, hari Kamis 24 Agustus. Keputusan Kishida itu terlepas dari meningkatnya kekhawatiran dan penolakan terus-menerus di dalam dan luar negeri.
Keputusan yang dibuat pada pertemuan tingkat menteri Jepang pada Selasa pagi, segera menghadapi reaksi keras tidak hanya dengan protes di Jepang dan seruan dari Tiongkok untuk menarik keputusan tersebut, tetapi juga potensi pembatasan impor yang diperketat.
Para pengamat juga memperingatkan bahwa hal itu merupakan pukulan besar bagi citra nasional dan kepentingan ekonomi Jepang, serta pertukaran orang-ke-orangnya dengan negara dan wilayah lain.
Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Sun Weidong, pada hari Selasa memanggil Duta Besar Jepang untuk Tiongkok Hideo Tarumi, untuk mengajukan pernyataan serius, atas pengumuman Tokyo membuang air limbah yang terkontaminasi nuklir ke laut, yang dimulai hari Kamis.
Sun mengatakan, bahwa tindakan semacam itu, terang-terangan menyebarkan risiko bahaya radioaktif nuklir ke negara-negara tetangga, termasuk Tiongkok, dan komunitas internasional. Jepang telah menempatkan kepentingan sendiri diatas kepentingan dan kesejahteraan jangka panjang kawasan dan di seluruh dunia. Menurut Sun, ini sangat egois dan tidak bertanggung jawab.
Mencemari samudera dengan air yang terkontaminasi limbah nuklir, dapat berpotensi pada mutasi ekologis yang berbahaya dan menakutkan untuk jangka panjang. Ibarat membangunkan Godzilla, kadal yang ukurannya menjadi raksasa karena terpapar radioaktif percobaan nuklir pada film hollywood.
Kyodo News melaporkan, setelah pengumuman hari Selasa tersebut, sekitar 230 aktivis dan nelayan berkumpul di luar kantor perdana menteri Jepang untuk melakukan protes. Mereka mendesak pemerintah untuk mendengarkan suara para nelayan, dan tidak membuang air yang terkontaminasi nuklir ke laut. (GT)