Jakarta, Bharata Online - Pada tanggal 28 Juni 2026, di Taman Fatahillah, Jakarta, Indonesia, alunan musik merdu terdengar, diikuti dengan pertunjukan kilat (flash mob) tarian dan lagu etnis dari Yunnan, Tiongkok.
Di satu sisi lapangan berdiri Museum Sejarah Jakarta—bekas gedung gubernur Hindia Belanda. Dosen dan mahasiswa dari Universitas Bandar Kunming, mengenakan pakaian adat yang meriah, berputar mengikuti irama genderang, menarik perhatian warga yang semakin banyak berkumpul.
Di sisi lain, para pengunjung bersepeda tua berwarna biru dan merah muda melintas santai. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan budaya “Pelayaran Cheng Ho: Utusan Persahabatan Dunia” yang akan digelar, dan pertunjukan kilat ini adalah salah satu sesi promosi jalanannya. Di antara kerumunan, seorang gadis Indonesia terlihat larut dalam irama, hingga akhirnya ia ikut menari mengikuti gerakan para penari.
Gadis itu bernama Komang Ayu, berasal dari Provinsi Bali yang berjarak lebih dari 1.000 km dari Jakarta. Saat ini ia sedang belajar bahasa Mandarin di sebuah lembaga bahasa setempat dan memberi dirinya nama Tionghoa “Wang Xiaoyun”. “Di Indonesia, menguasai bahasa Mandarin berarti peluang kerja yang lebih banyak dan pendapatan yang lebih baik,” ujarnya.
Tarian dan lagu etnis Yunnan yang ditampilkan kali ini tidak asing baginya. Pada Juni 2019, rombongan seni budaya dari Provinsi Yunnan—provinsi mitra kerjasama—tampil dalam pawai pembukaan Festival Seni Bali ke-41. Tarian Dai, tarian Wa, dan berbagai tarian lainnya berlangsung sepanjang rute, disambut sorak-sorai penonton di sepanjang jalan. Saat itu, Wang Xiaoyun yang masih duduk di bangku SMP, berdesakan di antara kerumunan dan terpaku menyaksikan pertunjukan. “Saat itulah saya tahu bahwa Bali dan Yunnan sudah lama menjadi kawan,” ujarnya.
Pada tahun 2003, Provinsi Yunnan yang dijuluki “Yunnan di Selatan Awan Berwarna” dan Provinsi Bali yang dijuluki “Pulau Puisi” secara resmi menjalin hubungan provinsi mitra kerjasama. Dua wilayah yang berjarak lebih dari 3900 kilometer, namun sama-sama dikenal dengan pemandangan indah dan kekayaan budaya tradisional, sejak itu terus menjalin pertukaran di bidang budaya, pariwisata, pertanian, dan lain-lain.
Pada tahun 2024, kawasan persawahan di Kecamatan Jatiluwih, Bali Tengah, menjadi lokasi pertama proyek “Berbagi Koneksi Hati -Program Yunnan” yang diimplementasikan di Indonesia. Pihak Yunnan menyediakan dana serta berbagi pengalaman dan model pembangunan hijau, sementara mitra kerja sama di Indonesia membeli bibit padi, pupuk, dan alat mesin pertanian di tingkat lokal, serta mengundang tenaga ahli untuk memberikan pelatihan pertanian organik. Hal ini menghidupkan kembali terasering irigasi Subak yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Proyek ini menanam padi organik seluas 254 mu (sekitar 17 hektare), dengan produktivitas rata-rata per mu meningkat dari 267 kilogram menjadi lebih dari 300 kilogram, memberikan manfaat bagi 125 kepala keluarga petani setempat atau lebih dari 400 orang. Proyek ini juga tercantum dalam daftar capaian Forum Tingkat Tinggi Kedua Aksi Pembangunan Berbagi Global. Pada tahun 2025, proyek ini berfokus pada pengembangan model “pertanian organik + ekowisata”, dengan menggabungkan pemberdayaan pelatihan, pertukaran budaya, dan pembangunan elemen pariwisata, menghadirkan inovasi baru seperti kedai kopi di tengah sawah dan pengalaman bercocok tanam bagi wisatawan.
Mendengar kisah “padi penghubung hati” ini, Wang Xiaoyun mengatakan, “Tiongkok tidak hanya memberikan dukungan dana, tetapi juga dengan senang hati berbagi pengalaman dan konsep pembangunan. Tepat seperti pepatah Tiongkok kuno yang baru saya pelajari: ‘Memberi ajaran memancing lebih baik daripada memberi ikan’.”
Hubungan kerja sama antara Yunnan dan Indonesia tidak terbatas hanya pada Provinsi Bali. Di Kota Surabaya, Jawa Timur, proyek pembangkit listrik gasifikasi pirolisis sampah terbesar di Asia yang dibangun dengan investasi Yunnan Water—Proyek Gasifikasi Pirolisis Sampah Surabaya—telah beroperasi sejak tahun 2021, menyuplai listrik bagi sekitar 200.000 warga setempat sekaligus mengatasi masalah pengolahan sampah dari sekitar 1.75 juta penduduk. Pada tahun 2025, Yunnan juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang pembentukan hubungan provinsi mitra dengan Provinsi Sumatra Barat. “Yunnan di Selatan Awan Berwarna” kini semakin hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Setelah pertunjukan tari etnis Yunnan penutup yang berjudul Mu Nao Zong Ge (Tarian Bersama Mu Nao) usai, gemuruh tepuk tangan bergema di seluruh lapangan. Apa yang paling ingin dilakukan setelah mahir berbahasa Mandarin? Wang Xiaoyun mengatakan, ia ingin sekali mengunjungi Yunnan secara langsung, melihat perkembangan ekonominya, dan juga menyaksikan sawah bertingkat yang serupa dengan tanah kelahirannya.