Shanghai, Radio Bharata Online - Avatar digital, asisten virtual mirip manusia yang didukung oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), akan membuat perbedaan dalam industri baru dan yang sudah ada, dan menciptakan peluang bisnis bagi perusahaan teknologi Tiongkok.

Salah satu sektor yang telah menggunakan avatar digital adalah e-commerce. Selama festival belanja online 18 Juni tahun ini, acara belanja online terpenting kedua di Tiongkok setelah Hari Jomblo di bulan November, streaming langsung dengan host virtual meningkat hampir 400 persen.

"Pembawa acara virtual kami telah menyiarkan secara terus menerus selama 20 hari. Mereka telah menjual kupon hotel senilai satu juta yuan (sekitar 2 miliar rupiah) dalam waktu satu bulan," ujar Wei Bo, CEO iLaihua Tech.

Salah satu perusahaan yang memungkinkan pengguna untuk membuat kembaran digital mereka sendiri adalah perusahaan AI asal Tiongkok, SenseTime. Setelah merekam suara dan wajah pengguna selama beberapa menit dan melakukan pasca produksi dalam satu hari, SenseTime dapat menciptakan avatar yang bisa membuat konten sesuai dengan instruksi.

"Saat ini yang kami lakukan adalah kami memiliki model besar yang terdiri dari ribuan orang. Dengan begitu, video berdurasi lima menit dapat menghasilkan avatar digital yang hidup," kata Nina Luan, General Manager Digital Entertainment and Culture Business di SenseTime.

Ketika avatar menjadi lebih hidup, pemalsuan digital seperti deepfake dapat menjadi ancaman nyata, dan pengembang AI seperti SenseTime mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyalahgunaan teknologi ini.

"Proses otorisasi, proses deteksi deepfake, dan proses penandaan air adalah tiga langkah utama bagi kami untuk mencegah (video Anda) diambil oleh orang lain," kata Luan.

Laporan industri memprediksi bahwa pasar avatar virtual di Tiongkok akan mencapai hampir 40 miliar dolar AS (sekitar 612 triliun) pada tahun 2030.