JAKARTA, Radio Bharata Online - Setidaknya 500 orang dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel di Rumah Sakit Arab al-Ahli, di Gaza pada Selasa (17/10/2023). Ini menjadi insiden paling mematikan sejak negara tersebut melancarkan pembalasan, atas serangan kelompok Hamas pada 7 Oktober lalu.

Namun, militer Israel membantah bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. Mereka mengatakan bahwa intelijen militer menunjukkan rumah sakit terkena serangan roket yang gagal oleh kelompok Hamas di wilayah tersebut.

Para pemimpin dunia bereaksi keras atas serangan terhadap fasilitas kemanusiaan tersebut.

Seperti dilaporkan The New York Times, juru bicara Presiden Mahmoud Abbas, mengecam serangan udara itu sebagai tindakan genosida dan bencana kemanusiaan.

Akibat insiden tersebut, Abbas juga telah menarik diri dari pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yang dijadwalkan tiba di wilayah tersebut pada hari Rabu.

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, Kementerian Luar Negeri Yordania mengutuk keras serangan Israel, dan menekankan perlunya perlindungan internasional bagi warga sipil Palestina, serta diakhirinya pertempuran.

Raja Abdullah II mengatakan, pemboman Israel terhadap rumah sakit Gaza adalah pembantaian dan kejahatan perang yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Pemerintah Mesir telah mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan tersebut. Mesir juga menyerukan komunitas internasional untuk turun tangan dan mencegah pelanggaran lebih lanjut.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan serangan itu menandai eskalasi konflik yang semakin berbahaya. Perluasan serangan Israel di Jalur Gaza hingga mencakup rumah sakit, sekolah, dan pusat populasi lainnya merupakan eskalasi yang berbahaya.

Presiden Suriah, Bashar Al Assad, menganggap negara-negara Barat bertanggung jawab terutama Amerika Serikat, karena mereka adalah mitra entitas Zionis dalam semua operasi terorganisir, yang dirancang untuk membunuh warga Palestina.

Di media sosial, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam serangan itu dalam sebuah pernyataan. Dia mengatakan, Penghancuran terhadap rumah sakit yang menampung perempuan, anak-anak, dan warga sipil tak berdosa, adalah contoh terbaru serangan Israel, yang tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Erdogan juga mengajak seluruh umat manusia untuk mengambil tindakan, guna menghentikan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, mengutuk serangan itu dan menekankan pentingnya mematuhi hukum perang.

Menurutnya, berita yang keluar dari Gaza sangat mengerikan, dan benar-benar tidak dapat diterima.

Kementerian luar negeri Iran mengecam serangan udara itu sebagai serangan terhadap "orang-orang yang tidak bersenjata dan tidak berdaya".

Direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di platform media sosial X mengatakan, WHO mengutuk keras serangan terhadap Rumah Sakit Al Ahli Arab. Dia juga menyerukan perlindungan segera terhadap warga sipil dan layanan kesehatan, dan agar perintah evakuasi dibatalkan.

Ketua Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengatakan, para pemimpin dunia harus segera menghentikan tragedi ini, sebagai tanggapan atas serangan tersebut.

Di Media sosial dia menulis, pikiran jahat apa, yang dengan sengaja membombardir rumah sakit dan penghuninya yang tidak berdaya. Menurutnya, mekanisme Arab akan mendokumentasikan kejahatan perang ini, dan para penjahat tidak akan lolos dari tindakan mereka.

Saat hendak melakukan kunjungan ke Israel, Presiden AS Joe Biden mengaku marah dan sangat sedih, atas ledakan di rumah sakit Arab Al-Ahli di Gaza, dan banyaknya korban jiwa tak berdosa.

Biden mengatakan, dia telah berbicara dengan Raja Yordania Abdullah II dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan menambahkan bahwa dia telah mengarahkan tim keamanan nasional untuk terus mengumpulkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.  Amerika Serikat dengan tegas mendukung perlindungan kehidupan warga sipil selama konflik, dan berduka atas para pasien, staf medis, dan orang tak berdosa lainnya yang tewas atau terluka dalam tragedi ini.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merasa ngeri dengan serangan mematikan di sebuah rumah sakit di Gaza. Di akun X-nya, Guterres mengatakan, “Hati saya bersama keluarga para korban.  Berdasarkan hukum Kemanusiaan dan Internasional, Rumah sakit dan tenaga medis harus dilindungi.”

Dalam pernyataan yang dikeluarkan tak lama kemudian oleh juru bicaranya, Guterres juga mengutuk serangan terhadap sekolah yang dikelola PBB di kamp pengungsi Gaza yang menewaskan enam orang.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas telah mengumumkan tiga hari berkabung setelah serangan itu. Dia mengatakan akan segera kembali dari Yordania ke Tepi Barat pada hari Selasa, dan Yordania membatalkan rencana pertemuan para pemimpin regional, di mana Biden dijadwalkan bertemu dengan Abbas. Biden sendiri sekarang melewatkan kunjungannya ke Yordania. (TNYT)