JAKARTA, Radio Bharata Online – Dari Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, pengelompokan negara-negara BRICS berada di jalur yang tepat untuk memenuhi aspirasi sebagian besar penduduk dunia. Hal itu disampaikan dalam pertemuan puncak KTT BRICS secara daring di Afrika Selatan, Selasa (22/8).

Dilansir Reuters, Putin mengatakan, BRICS bekerja sama berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, dukungan kemitraan, menghormati kepentingan satu sama lain, dan ini adalah inti dari arah strategis asosiasi BRICS, yang berorientasi pada masa depan, memenuhi aspirasi bagian utama komunitas dunia, yang disebut mayoritas global.

Anggota BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, mewakili lebih dari 40% populasi dunia, dan KTT diharapkan membahas penambahan anggota baru.

Putin tidak dapat menghadiri KTT secara langsung dikarenakan surat perintah penangkapan dirinya pada bulan Maret oleh Pengadilan Pidana Internasional (ICC) masih berlaku. ICC menuduh Putin melakukan kejahatan perang di Ukraina.

Rusia menganggap tuduhan itu sebagai keterlaluan, dan mengatakan langkah ICC tidak memiliki arti hukum, karena Rusia bukan anggota ICC. Namun, Afrika Selatan adalah anggota ICC, yang berarti wajib menangkapnya jika Putin bepergian ke sana.

Putin mengatakan, KTT akan membahas secara rinci pertanyaan tentang mengalihkan perdagangan antara negara-negara anggota BRICS dari dolar AS, ke mata uang nasional.  Sebuah proses di mana Bank Pembangunan Baru BRICS akan memainkan peran besar.

BRICS adalah forum yang semakin penting bagi Rusia, pada saat ekonominya bergulat dengan sanksi Barat atas perang di Ukraina, dan ingin membangun hubungan diplomatik serta perdagangan baru dengan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Putin mengatakan Rusia ingin mengembangkan dua proyek unggulan, yakni rute laut utara dengan pelabuhan baru, terminal bahan bakar, dan armada kapal pemecah es yang diperluas, serta koridor utara-selatan yang menghubungkan pelabuhan Rusia, dengan terminal laut di Teluk dan Samudera Hindia.

Dia mengatakan Rusia akan tetap menjadi pemasok makanan yang dapat diandalkan ke Afrika, dan sedang menyelesaikan pembicaraan mengenai penyediaan gandum gratis bagi sekelompok negara Afrika, seperti yang dia janjikan pada pertemuan puncak di St. Petersburg bulan lalu. (Reuters)