Harbin, Bharata Online - Di seluruh Tiongkok, mahasiswa internasional dari Rusia telah menjadi pemandangan yang biasa, berperan sebagai jembatan pembelajaran dan persahabatan timbal balik yang semakin mendekatkan kedua bangsa.

Tahun 2026 menandai tahun perdana Tahun Pendidikan Tiongkok-Rusia, tahun tematik tingkat nasional pertama yang didedikasikan untuk kerja sama pendidikan bilateral.

Daria Smolnikova, 24 tahun, adalah mahasiswa magister tahun kedua di Sekolah Studi Penerjemahan dan Interpretasi Universitas Heilongjiang, yang didirikan pada tahun 2018 bekerja sama dengan Universitas Negeri Moskow Rusia untuk melatih penerjemah sesuai standar PBB.

"Saya telah belajar bahasa Mandarin di Universitas Heilongjiang selama tujuh tahun. Jurusan saya adalah penerjemahan bahasa Rusia. Saya selalu melihat betapa tertariknya orang Tiongkok pada budaya Rusia, dan saya juga membantu orang Rusia mempelajari budaya Tiongkok," ujar Daria.

Pada tahun 2025, Tiongkok dan Rusia telah membangun lebih dari 150 program dan lembaga pendidikan bersama, dan 15 aliansi penelitian dan inovasi universitas mencakup lebih dari 800 universitas Tiongkok dan Rusia.

Pada hari Senin (18/5), Universitas Kehutanan Timur Laut Tiongkok dan Universitas Teknik Kehutanan Negeri Saint Petersburg Rusia bersama-sama meluncurkan Konsorsium Sino-Rusia untuk Inovasi dalam Pendidikan, Sains, dan Industri Kehutanan, dengan 48 universitas dan lembaga penelitian dari kedua negara yang telah terlibat.

Pertukaran pendidikan antara Tiongkok dan Rusia terus berkembang lebih luas dan mendalam.

Yulia Temelidi tiba di Beijing pada tahun 2020 untuk belajar ekonomi di Universitas Tsinghua.

"Baik dari perspektif pembangunan nasional maupun pertukaran bilateral, saya percaya Tiongkok adalah tempat yang sangat baik untuk mendapatkan pendidikan di bidang ekonomi," katanya.

Hubungan Yulia dengan Tiongkok bahkan dimulai lebih awal. Pada tahun 2008, saat baru berusia enam tahun, ia mengunjungi Beijing bersama keluarganya. Setelah kembali ke Rusia, ia memilih bahasa Mandarin sebagai bahasa asing keduanya dan mulai mempelajarinya di sekolah menengah.

"Banyak teman sekelas saya di SMA memilih untuk tetap tinggal di Rusia untuk gelar sarjana mereka. Tetapi ketika tiba saatnya program pertukaran pelajar atau studi pascasarjana, banyak dari mereka memutuskan untuk datang ke Tiongkok. Saya juga telah berbagi pengalaman saya dengan mereka. Saya kira itulah cara saya dapat membantu dengan kemampuan saya sendiri, dan itu juga merupakan cara anak muda untuk berkontribusi pada hubungan Tiongkok-Rusia," ungkapnya.

Tiongkok dan Rusia kini memiliki lebih dari 80.000 mahasiswa yang belajar di universitas masing-masing. Jurusan bahasa Rusia ditawarkan di 185 universitas Tiongkok, dan lebih dari 200 universitas Rusia menyediakan kursus bahasa Mandarin. Semangat untuk mempelajari bahasa masing-masing terus meningkat.

Mahasiswa Rusia, Nik Gu, telah tinggal di Tiongkok sejak kecil, menetap di Beijing bersama orang tuanya lebih dari 20 tahun yang lalu. Ia telah menyaksikan langsung pertukaran pemuda antara kedua negara.

"Di kampus, saya sering melihat mahasiswa Tiongkok belajar bahasa Rusia atau mendengar mereka melafalkan puisi Rusia. Selain itu, budaya Tiongkok sudah familiar bagi banyak orang Rusia. Sedangkan untuk kaum muda, saya pikir mereka lebih memperhatikan topik teknologi tinggi seperti kemajuan AI Tiongkok atau kendaraan energi baru, atau produk-produk paling mutakhir," tutur Nik.

Berpergian bolak-balik antara Tiongkok dan Rusia, Nik dan mahasiswa Rusia lainnya berbagi pengalaman mereka dengan orang-orang di kampung halaman, membangun "jembatan pemuda" untuk komunikasi lintas budaya.

"Tiongkok telah berubah secara dramatis. Pada tahun 2008, saya berkesempatan pergi bersama orang tua saya ke Stadion Sarang Burung di Beijing untuk menonton Olimpiade Musim Panas. Kesan saya saat itu adalah Tiongkok adalah negara dengan sejarah yang kaya. Kemudian pada tahun 2022, saya cukup beruntung dapat menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Beijing (sebagai mahasiswa internasional). Saat itu, saya terkesan dengan Tiongkok modern. Saya pikir transformasi ini terlihat tidak hanya dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari tetapi juga di panggung internasional," ujar Nik.

Daria mengatakan keluarga dan teman-temannya juga telah mengembangkan minat pada budaya Tiongkok.

"Saya akan lulus dalam sebulan. Saya berencana untuk bekerja di Tiongkok sebagai penerjemah, membantu kedua belah pihak berkomunikasi secara efektif dan bekerja sama sepenuhnya," katanya.

Yulia mengatakan, kerja sama antar lembaga memainkan peran kunci dalam membina generasi penerus bagi Tiongkok dan Rusia.

"Baik melalui kemitraan universitas maupun pertukaran budaya, semuanya tentang membina talenta muda bagi kedua negara. Ini membantu kaum muda mempelajari budaya masing-masing, memperoleh pengetahuan, dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah," katanya.