Shenyang, Radio Bharata Online - Upacara pembunyian lonceng diadakan untuk menandai peringatan ke-92 Insiden 18 September di depan sebuah monumen di Museum Sejarah Insiden 18 September di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok, pada hari Senin (18/9).

Pada hari naas di tahun 1931 itu, pasukan Jepang meledakkan sebuah bagian rel kereta api di dekat Shenyang yang berada di bawah kendali mereka dan menuduh pasukan Tiongkok melakukan sabotase sebagai dalih untuk melakukan agresi terhadap Tiongkok.

Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat membunyikan lonceng sebanyak 14 kali pada pukul 09:17, yang melambangkan 14 tahun perlawanan rakyat Tiongkok terhadap agresor Jepang.

Pada pukul 09:18, sirene serangan udara meraung-raung sementara kendaraan berhenti dan membunyikan klakson, dan masyarakat berdiri mengheningkan cipta untuk menandai babak kelam dalam sejarah ini. Kapal dan kereta api juga membunyikan sirene mereka.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok terus memperingati Insiden 18 September. Insiden ini memicu Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok terhadap Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia.

Invasi Jepang tahun 1931-1945 menyebabkan lebih dari 35 juta korban jiwa di kalangan tentara dan warga sipil Tiongkok, yang merupakan sepertiga dari jumlah korban Perang Dunia II di seluruh dunia.

Selama Perang Perlawanan terhadap Agresi Jepang, Tiongkok bertempur dengan dua pertiga tentara Jepang, memberikan kontribusi besar terhadap kemenangan sekutu dalam Perang Dunia II.