Jakarta, Bharata Online – Untuk membedah dinamika dan masa depan hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok, CGTN Indonesia bekerja sama dengan Bharata Production akan menyelenggarakan acara bertajuk "Forum Dialog Bharata Online", yang tayang mulai hari ini, Senin, 15 Juni 2026.
Forum dialog yang mengangkat tema "Membaca Surat Kamar Dagang Tiongkok Kepada Presiden RI: Potensi dan Tantangan Kerja Sama Indonesia-Tiongkok" itu dapat Anda ikuti melalui Kanal YouTube Bharata Online, Program BATIK Radio Bharata, dan Kanal Spotify Bharata Online.
Melalui tema tersebut, acara ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam mengenai peluang ekonomi serta tantangan strategis yang dihadapi oleh kedua negara.
Untuk membahas topik tersebut secara tajam dan berimbang, forum yang dipandu oleh Andy Qiu, Pegiat Media Mandarin dan CEO Bharata Online ini menghadirkan jajaran pakar, akademisi, dan praktisi media terkemuka, yaitu:
* Dr. Harryanto Aryodiguno – Pakar Hubungan Internasional, Lektor Kepala Hubungan Internasional Universitas President.
* Padang Wicaksono, S.E., Ph.D. – Pakar Ekonomi Makro, Dosen Tetap Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
* Dr. Jureynolds, SS., M.Litt. – Pakar Linguistik, Kepala Program Studi Sastra Tiongkok Universitas Bina Nusantara.
* Bekti Nugroho – Jurnalis Senior, Ketua Dewan Redaksi EmitenNews.com.
Menurut Harryanto, surat Kamar Dagang Tiongkok kepada Presiden Prabowo Subianto merupakan hal yang terbilang tidak biasa. Pasalnya, ini adalah langkah terakhir yang mau tidak mau harus ditempuh. Ia menilai bahwa sebelum mengirim surat terbuka kepada Presiden, para pengusaha ini tentunya sudah menyampaikan hambatan yang mereka alami melalui berbagai jalur resmi.
"Saya mengambil contoh saja, (ketika) mengalami masalah keemigrasian, jelas mereka sudah ke kantor imigrasi. Mungkin mereka merasa tidak didengar. Kalau mereka mengalami masalah penanaman modal, mungkin mereka langsung ke kantor BKPM, atau mungkin langsung ke kementerian terkait, tapi tidak didengar. Jadi mereka mau bertemu langsung dengan Presiden," ujarnya.
Di sisi lain, Padang mengatakan bahwa langkah yang diambil Kamar Dagang Tiongkok ini berhubungan dengan kebuntuan birokrasi dan komunikasi, sehingga mendorong mereka untuk menggunakan cara selain jalur birokrasi resmi.
"Jadi kan sebenarnya persoalan kita ini, kalau kita memakai jalur resmi, itu kan tidak digubris, akhirnya orang bikin ribut. Harus viral, supaya didengar," katanya.
Ia juga menilai bahwa apa yang dikeluhkan oleh Kamar Dagang Tiongkok sebenarnya bukan masalah besar, melainkan masalah teknis yang seharusnya dapat diselesaikan bersama dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN), dalam arti tidak perlu sampai ke Presiden.
"Tapi kemudian ketika institusi tidak jalan, sistem tidak jalan, akhirnya kirim surat terbuka," tuturnya.
Sementara itu, Bekti menyatakan bahwa surat Kamar Dagang Tiongkok ini merupakan respons yang sangat bagus untuk Pemerintah Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut dapat membuat Presiden Prabowo peduli dan sadar bahwa ada sesuatu yang memang harus segera dibenahi, terutama terkait kepercayaan investor asing.
"Pak Prabowo kan selalu mengatakan pasal 33, bahwa semua kekayaan alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Nah, untuk mewujudkan itu, integrity dan trustworthy itu kuncinya. Surat ini harus dijadikan semacam kayak entry point menuju ke sana," jelasnya.
Adapun Jureynolds, menilai bahwa meskipun surat Kamar Dagang Tiongkok ini dibuat dalam bahasa Inggris, namun pemilihan kata, diksi maupun retorikanya merupakan gaya berbahasa orang Tiongkok, yang dalam berkomunikasi didasari oleh paham Konfusius.
"Pertama kita lihat dari judulnya, ada kata improvement. Ini kalau langsung dipadankan dengan kata bahasa Mandarin, itu artinya adalah gǎishàn (改善). Itu bukan mengeluh, bukan menuntut, tapi sebenarnya adalah ingin mengajak untuk memperbaiki bersama," ujarnya.
"Menginginkan perubahan, tapi dilakukan bersama-sama, diperbaiki secara bersama-sama. Nah ini cocok banget dengan gaya bahasa konfusius, di mana kalau mengkritik, ya sambil bawa solusinya," imbuhnya.
Kehadiran forum ini diharapkan dapat menjadi jembatan informasi yang memperkaya perspektif masyarakat terhadap hubungan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok ke depannya.