Berlin, Bharata Online - Di Jerman, seorang ayah dan anak berkolaborasi dalam sebuah buku yang merinci kejahatan perang dan kekejaman tentara Jepang di Tiongkok selama Perang Dunia II, dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran akan babak kelam sejarah ini di kalangan lebih banyak orang Eropa melalui penelitian sejarah.

Penerbit dan penulis Jerman, Frank Schumann, 74 tahun, menemukan bahwa orang Eropa memiliki pengetahuan yang sangat terbatas tentang sejarah teater Asia dalam Perang Dunia II, terutama teater Tiongkok.

"Lima puluh atau enam puluh tahun yang lalu, saya mulai bekerja sebagai jurnalis dan berhubungan dengan sejarah Perang Dunia II, terutama berfokus pada teater Eropa. Kemudian, saya menemukan bahwa masyarakat Eropa memiliki pemahaman yang sangat terbatas tentang teater Asia, terutama perang yang terjadi di Tiongkok. Perang agresi Jepang terhadap Tiongkok tidak mendapat perhatian yang layak," katanya.

Pada tahun 2014, saat belajar di Jepang, putra Frank Schumann, Fritz Schumann, yang sekarang menjadi penulis lepas, mengunjungi lokasi pabrik gas beracun Jepang era Perang Dunia II di dekat Hiroshima. Tertarik dengan bagian sejarah ini, ia mulai meneliti materi terkait.

"Saat belajar di Hiroshima, saya menemukan Okunoshima, sebuah pulau kecil [yang terletak di lepas pantai Hiroshima] tempat Jepang pernah mengoperasikan pabrik gas beracun terbesar di Asia. Gas kimia yang diproduksi di sana secara khusus ditujukan untuk digunakan oleh pasukan Jepang di Tiongkok. Yang mengejutkan saya adalah sejarah ini sebagian besar tetap tidak diketahui di Jepang sendiri. Baik fakta penggunaan gas beracun oleh Jepang di Tiongkok maupun keberadaan pabrik tersebut tidak banyak dibahas atau diakui. Jadi saya memulai penyelidikan, meninjau arsip dan mengunjungi museum," ujar Fritz Schumann.

Saat mereka mempelajari lebih banyak tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Jepang di Tiongkok selama Perang Dunia II, mereka memutuskan untuk menulis buku agar lebih banyak orang mengetahui sejarah ini.

"Buku ini mengkaji penggunaan senjata kimia oleh Jepang di Tiongkok, merinci konteks sejarah, keterlibatan Jerman, dan, yang terpenting, relevansi episode tersebut bagi masyarakat kontemporer," jelas Fritz Schumann.

Mereka percaya bahwa kejahatan perang yang dilakukan Jepang di Tiongkok selama Perang Dunia II telah meninggalkan jurang pemisah yang dalam antara kedua masyarakat dan bangsa, tetapi apa yang dilakukan pemerintah Jepang saat ini bukanlah untuk memperbaiki jurang pemisah tersebut. Sebaliknya, mereka justru memperburuknya.

"Kebijakan pemerintah Jepang saat ini justru memperdalam jurang pemisah ini. Baik pemerintah maupun orientasi politik Jepang secara keseluruhan tidak menunjukkan komitmen yang tulus untuk menjembatani perbedaan dan keterasingan antara Jepang dan Tiongkok. Sebaliknya, Tiongkok secara konsisten berupaya untuk hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara tetangganya. Di Tiongkok, sering dikatakan bahwa 'semua di bawah langit adalah satu keluarga'," kata Frank Schumann.

Buku ini diharapkan selesai dan diterbitkan dalam berbagai bahasa tahun ini, yang akan membantu pembaca lebih memahami periode sejarah tersebut dan relevansinya di masa kini, serta mendorong lebih banyak orang untuk bekerja sama demi masa depan yang damai dan bebas dari perang.