Beijing, Bharata Online - Dewan Bisnis Inggris-Tiongkok resmi melanjutkan kegiatannya pada hari Kamis (29/1) di Beijing setelah jeda delapan tahun, dengan lebih dari 60 perusahaan Inggris dan 50 perusahaan Tiongkok duduk bersama untuk melakukan pembicaraan langsung tentang perdagangan, investasi, dan kerja sama industri.

Kembalinya kegiatan dewan bisnis tersebut berlangsung selama kunjungan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, ke Tiongkok.

"Dewan Bisnis Inggris-Tiongkok adalah inti bisnis dari kunjungan Perdana Menteri Keir Starmer ke Tiongkok. Dan ini adalah kunjungan yang memiliki makna historis, hadirin sekalian. Sudah delapan tahun sejak Perdana Menteri Inggris terakhir kali datang ke Tiongkok. Ini jelas waktu yang tepat," ujar Sebastian Wood, Ketua Dewan Bisnis Inggris-Tiongkok.

Perdagangan barang antara Tiongkok dan Inggris kini menyaingi perdagangan Inggris dengan beberapa mitra tradisional terdekatnya, dan melampaui perdagangan Inggris dengan banyak negara G7.

"Pada tahun 2025, perdagangan bilateral melebihi 100 miliar dolar AS (1.678 triliun rupiah), meningkat lebih dari 5 persen dari tahun sebelumnya. Investasi dua arah juga tumbuh stabil, mencapai lebih dari 30 miliar dolar di masing-masing pihak,” kata Liu Bo, Wakil Direktur Departemen Urusan Eropa di Kementerian Perdagangan Tiongkok.

Bagi beberapa eksekutif, kunjungan ini bukan hanya menandai normalisasi hubungan bisnis, tetapi juga menandakan komitmen yang lebih dalam dari bisnis di kedua belah pihak.

"Delapan tahun lalu, kami benar-benar datang, kami berada di Tiongkok untuk membawa obat-obatan kami kepada pasien di Tiongkok. Dan hari ini kami sangat bangga mengumumkan, kami akan menginvestasikan 100 miliar yuan (sekitar 241,5 triliun rupiah) di Tiongkok selama 4 tahun ke depan, 5 tahun hingga 2030, untuk terus membangun kehadiran kami di Tiongkok untuk penelitian dan pengembangan, manufaktur, investasi di seluruh negeri," kata Pascal Soriot, CEO AstraZeneca.

Kebangkitan kembali Dewan Bisnis Inggris-Tiongkok merupakan kabar baik bagi para delegasi, bahkan bagi mereka yang bisnisnya berkembang pesat selama jeda operasional dewan.

"Saya sangat merasa terhormat berada di sini. Seperti yang Anda ketahui, Airbus mengenal Tiongkok dan Tiongkok mengenal Airbus dengan sangat baik. Jadi, kami meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan di pasar. Tiongkok adalah pelanggan terbesar kami dalam hal negara, jadi kami sangat senang berbisnis di sini," ungkap John Harrison, Ketua Airbus.

"Kunjungan Perdana Menteri Starmer dan pertemuannya dengan Presiden Xi hari ini menandai tonggak penting dalam memperdalam hubungan yang saling menguntungkan antara ekonomi terbesar kedua dan keenam di dunia. Kehadiran kami di sini hari ini menunjukkan dinamika positif tersebut," ujar Brendan Nelson, Ketua HSBC.